Showing posts with label Pasca Kehamilan. Show all posts
Showing posts with label Pasca Kehamilan. Show all posts

Sunday, August 18, 2013

MASTITIS: Masalah Ibu Menyusui

Mastitis merupakan masalah yang sering dijumpai pada ibu menyusui. Diperkirakan sekitar 3-20% ibu menyusui dapat mengalami mastitis. Adanya mastitis biasanya menurunkan produksi ASI dan menjadi alasan ibu untuk berhenti menyusui, oleh karenanya penting untuk dicegah dan jika terjadi mastitis harus segera mendapat penanganan yang tepat, baik oleh bidan, dokter ataupun konselor laktasi. Sehingga diharapkan ibu bisa terus menyusui bayinya dan bayipun mendapatkan haknya berupa makanan terbaik yaitu ASI.

Sebagian besar mastitis terjadi dalam 6 minggu pertama setelah bayi lahir (paling sering pada minggu ke-2 dan ke-3), meskipun mastitis dapat terjadi sepanjang masa menyusui bahkan pada wanita yang sementara tidak menyusui.

Definisi dan Diagnosis

Mastitis merupakan suatu proses peradangan pada satu atau lebih segmen payudara yang mungkin disertai infeksi atau tanpa infeksi. Dalam proses ini dikenal pula istilah stasis ASI, mastitis tanpa infeksi, dan mastitis terinfeksi. Stasis ASI terjadi apabila ASI menetap di bagian tertentu payudara, karena saluran tersumbat atau karena payudara bengkak. Bila ASI tidak juga dikeluarkan, akan terjadi peradangan jaringan payudara yang disebut mastitis tanpa infeksi, dan bila telah terinfeksi bakteri disebut mastitis terinfeksi. Diagnosis mastitis ditegakkan berdasarkan kumpulan gejala sebagai berikut:

  • Demam dengan suhu lebih dari 38,5 0C
  • Menggigil
  • Nyeri atau ngilu seluruh tubuh
  • Payudara menjadi kemerahan, tegang, panas, bengkak, dan terasa sangat nyeri.
  • Peningkatan kadar natrium dalam ASI yang membuat bayi menolak menyusu karena ASI terasa asin.
  • Timbul garis-garis merah ke arah ketiak.


Friday, June 28, 2013

Keguguran: Gejala dan Penanganan

Keguguran atau yang dalam istilah kedokteran dikenal sebagai aborsi (abortus) adalah pengeluaran hasil konsepsi atau pembuahan sebelum janin dapat hidup di luar kandungan, dengan berat badan janin kurang dari 500 gram dan usia kandungan kurang dari 20 minggu. Usia kehamilan yang cukup bulan/ aterm adalah 37 – 40 minggu.

Tanda-Tanda Terjadinya Abortus
  1. Terjadi kontraksi uterus/ rahim
  2. Terjadi perdarahan uterus/ rahim
  3. Dilatasi serviks (pelebaran mulut rahim)
  4. Ditemukan sebagian atau seluruh hasil konsepsi/ pembuahan
Etiologi Abortus
Penyebab keguguran sebagian tidak diketahui secara pasti tetapi terdapat beberapa faktor yang dianggap dapat menyebabkan terjadinya abortus, antara lain kelainan kromosom, terganggunya pemberian zat-zat makanan pada hasil konsepsi, radiasi, virus, obat-obatan, kelainan pada plasenta, penyakit ibu (pneumonia, tifus abdominalis, pielonefritis, malaria, dll), mioma submukosa, rendahnya kadar hormon progesteron, dll. Anemia berat, keracunan, laparatomi, peritonis umum dan penyakit menahun seperti brusellosis, mononukleosis, toksoplasmosis juga dapat menyebabkan abortus walaupun lebih jarang.

Klasifikasi Abortus
Abortus diklasifikasikan menjadi 3, yaitu:
  1. Abortus spontan adalah pengakhiran kehamilan sebelum 20 minggu yang berlangsung tanpa tindakan/ tanpa disengaja.
  2. Abortus buatan adalah pengakhiran kehamilan sebelum 20 minggu akibat tindakan yang disengaja.
  3. Abortus terapeutik adalah abortus buatan yang dilakukan pada kehamilan sebelum 20 minggu atas indikasi tindakan medis.
Abortus spontan maupun buatan bisa berupa abortus imminens, insipiens, kompletus, inkompletus, infeksius, missed abortion.

Friday, June 21, 2013

Penanganan dan Perawatan Masa Nifas

Masa nifas (puerperium) merupakan masa pembersihan rahim yang bermula saat partus selesai, dan berakhir setelah kira-kira 6 minggu atau 40 hari setelah melahirkan. Perawatan masa nifas dimaksudkan untuk mengembalikan alat-alat kandungan dan alat genetelia pulih kembali seperti sebelum ada kehamilan. Alat genetelia biasanya memerlukan waktu 3 bulan untuk bisa pulih kembali. 

Perawatan masa nifas sebenarnya dimulai sejak kala uri dengan menghindarkan adanya kemungkinan-kemungkinan perdarahan post partum dan infeksi. Apabila didapati ada perlukaan pada jalan lahir atau luka bekas episiotomi, lakukan penjahitan dan perawatan luka dengan sebaik-baiknya. Berikut merupakan beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penanganan dan perawatan masa nifas:

PENANGANAN
Kebersihan Diri 
  • Jaga kebersihan seluruh tubuh
  • Bersihkan daerah kelamin dengan sabun dan air, membersihkan daerah di sekitar vulva terlebih   dahulu, dari depan ke belakang, baru kemudian membersihkan daerah sekitar anus. Bersihkan vulva setiap kali selesai buang air kecil atau besar.
  • Ganti pembalut atau kain pembalut setidaknya dua kali sehari. Kain dapat digunakan ulang jika telah dicuci dengan baik dan dikeringkan di bawah matahari atau disetrika.
  • Cuci tangan dengan sabun dan air sebelum dan sesudah membersihkan daerah kelamin.
  • Jika ibu mempunyai luka episiotomi atau laserasi, hindari menyentuh luka.

Saturday, March 23, 2013

Berbagai Masalah Yang Dihadapi Ibu Menyusui

Dokter Muslimah
beri-beri.com
Menyusui merupakan aktivitas yang sangat penting bagi ibu maupun bayinya. Dalam proses menyusui, terjadi hubungan yang erat antara ibu dan anak. Seorang ibu, tentu ingin dapat melaksanakan aktivitas menyusui dengan nyaman dan lancar. Namun, terkadang ada hal-hal yang mengganggu kenyamanan dalam menyusui. (Dinukil dari almanhaj.or.id)

Berikut ini kami paparkan masalah-masalah yang sering dialami oleh seorang ibu, sehubungan dengan menyusui dan cara mengatasinya.

Payudara Bengkak
Sekitar hari ketiga atau keempat sesudah ibu melahirkan, payudara sering terasa lebih penuh, tegang, serta nyeri. Keadaan seperti itu disebut engorgement (payudara bengkak), yang disebabkan oleh adanya statis di vena dan pembuluh darah bening. Ini merupakan tanda bahwa ASI mulai banyak disekresi. Jika dalam keadaan tersebut ibu menghindari menyusui karena alasan nyeri, lalu memberi prelacteal feeding (makanan tambahan) pada bayi, keadaan tersebut justru berlanjut. Payudara akan bertambah bengkak atau penuh, karena sekresi ASI terus berlangsung, sementara bayi tidak disusukan, sehingga tidak terjadi perangsangan pada puting susu yang mengakibatkan refleks oksitosin tidak terjadi dan ASI tidak dikeluarkan.

Jika hal ini terus berlangsung, ASI yang disekresi menumpuk pada payudara dan menyebabkan areola (bagian berwarna hitam yang melingkari puting) lebih menonjol, puting menjadi lebih datar dan sukar dihisap oleh bayi ketika disusukan. Bila keadaan sudah sampai seperti ini, kulit pada payudara akan nampak lebih merah mengkilat, terasa nyeri dan ibu merasa demam seperti influenza.