Showing posts with label Parenting. Show all posts
Showing posts with label Parenting. Show all posts

Monday, August 18, 2014

Ajari Anak Anda Tingkatan Suara dan Tempat Pemakaiannya

Mengajari anak kita mengenai tingkatan-tingkatan suara (intonasi) dan tempat pemakaiannya adalah sesuatu yang perlu. Berbisik, suara yang rendah untuk percakapan rahasia, sehingga tidak mengganggu orang tidur. Perkataan dengan intonasi atau aksen datar, dipakai dalam kehidupan sehari-hari seperti ketika bermain dan bercakap-cakap. Kemudian suara tinggi dipakai saat minta tolong, memperingatkan seseorang yang ada dalam bahaya tetapi ia tidak melihatnya.

Contoh berikut akan menjelaskan apa yang kita maksudkan. Ahmad berusia 4 tahun, dia meminta apa saja kepada ibunya dengan cara berteriak keras sekali. Sepertinya teriakan si Ahmad itu sebagai ganti dari bicaranya. Kemudian sang ibu ingin mengajarinya bagaimana berbicara dengan lebih tenang. Sang ibu berbicara kepada putranya, "Mari kita berbicara tentang suara." Suara itu adakalanya tinggi dan keras -lalu ia berbicara dengan suara tinggi-, adakalanya pelan dan halus -ia merendahkan suaranya dan berbicara dengan intonasi normal tanpa emosi-. "Anakku..., mari kita berlatih". "Ibu ingin mendengar suara yang tinggi." Ahmad tersenyum lalu berteriak, "Ini suara keras", katanya. Ibunya menjawab "bagus". "Sekarang ibu ingin mendengar suara kamu yang pelan." Lalu Ahmad berbisik, "Ini suara pelan ...". "Bagus sekali", kata ibunya. "Anakku..., saat kamu meminta sesuatu, berbicaralah dengan suara pelan dan tenang!". 

Berikutnya, setiap kali Ahmad meminta sesuatu dengan suara pelan, ibunya memberinya penghargaan atau hadiah. Dengan demikian bisa diperkirakan hasilnya, tentunya sang anak akan termotivasi untuk menggunakan tingkatan-tingkatan suara sesuai pada tempatnya.

Wednesday, December 11, 2013

Si Kecil Keras, Suka Mengobrak-Abrik dan Bikin Berantakan



Sikap keras, suka menjerit, dan merusak yang sering dilakukan oleh balita, dalam ilmu kedokteran dikenal dengan istilah temper tantrum. Temper tantrum adalah suatu letupan amarah anak di saat anak mulai menunjukkan kemandirian dengan sikap negatifnya, seperti menggunakan alat-alat yang ada ditangannya. Dalam kondisi ini si kecil sedang lepas kendali, sehingga dia kadang melempar gelas, piring, mengetok-ngetok perabotan rumah, mencorat-coret, mengoyak dan mencabik-cabik kertas, mengobrak-abrik barang dan perilaku negatif lainnya.

Ulah dan tingkah laku seperti ini adalah normal-normal saja dilakukan oleh anak pada fase pasif. Hal ini menunjukkan perkembangan kecerdasan anak dan semangat beraktifitasnya. Umumnya, tingkah laku tersebut dilakukan oleh balita dengan umur antara 1,5 hingga 3 tahun. Pada usia ini balita akan mengalami perkembangan sifat, sudah mengenal dirinya, suka berbohong, dan suka memiliki.

Perilaku anak seperti ini juga bisa kian bertambah disebabkan oleh faktor orang tua, misalnya; karena terlalu berlebihan dalam memanjakan sang anak. Hal tersebut bisa juga disebabkan karena kurangnya kasih sayang orang tua pada si anak; seperti orang tua yang kurang memberinya perhatian, meresponnya dan memperlakukannya secara kasar.

Solusi yang paling ampuh untuk mengatasi sikap anak ketika mengalami temper tantrum adalah menjaga mental dan psikologinya dari dalam dirinya sendiri. Contohnya, membiarkan apa yang sedang dia lakukan. Jangan membentak dan memarahinya! Karena setelah merasa bosan dan tahu bahwa yang dilakukannya tidak berpengaruh pada dirinya, dia akan meninggalkan perbuatan tersebut. Nah, secara tidak langsung ulah dan tindakannya itu akan teratasi dengan sendirinya.

Tuesday, July 30, 2013

Mengatasi Si Kecil Suka Berbohong

Berbohong adalah kebiasaan yang sangat tidak baik untuk anak-anak. Karena umumnya, kebiasaan ini akan terbawa hingga anak beranjak dewasa. Sifat berbohong ini biasanya ditimbulkan karena rasa takut, khususnya pada masa kanak-kanak. Mungkin takut dihukum karena melakukan kesalahan atau perangai yang tidak baik. Bisa juga anak berbohong karena ingin mendapatkan sesuatu yang tidak dibolehkan atau dilarang oleh orang tuanya. Di sini jelas, bahwa tujuan anak berbohong adalah untuk menjaga dan melindungi dirinya. Kebiasaan yang tidak baik ini berkaitan dengan dua kebiasaan lain yang tidak terpuji, yaitu mencuri dan curang. Ketiga sifat buruk ini termasuk sifat tidak amanah, sekalipun orang yang berbohong bertujuan melindungi dirinya dari hukuman atas kesalahan yang telah dilakukannya.

Dalam studi para pakar ilmu kriminal disebutkan, bahwa kriminal anak dikategorikan sebagai bentuk kriminal khusus. Rumusnya adalah anak yang memiliki sifat pembohong biasanya mempunyai dua kebiasaan yang tidak baik; suka curang dan mencuri. Dari sini akan tampak jelas adanya kaitan erat yang menghubungkan sifat-sifat tersebut. Berbohong, suka curang, dan suka mencuri dogolongkan dalam satu bentuk kejahatan, yaitu tidak amanah.

Para pengasuh dan pendidik anak biasanya sering menggunakan cara paksa untuk mengubah anak-anak yang telah terbiasa dengan budaya ini. Cara tersebut tentunya tidak efektif, karena hasilnya akan membuat anak semakin nakal dan berkelakuan yang macam-macam. Jadi, para tua hendaknya menggunakan cara lain untuk mengatasi kebiasaan anak yang suka berbohong. Dan tentunya, orang tua tidak akan mendapatkan cara lain yang benar-benar efektif dan positif, jika tidak mempelajari terlebih dahulu macam-macam motif dan alasan mengapa anak berbohong dan apa faktor penyebabnya. Nah, setelah mengetahui dan mengenal penyebabnya, barulah orang tua bisa dengan mudah mengatasi penyakit yang berbahaya ini.

Sunday, July 21, 2013

Mengatasi Rasa Takut Pada Anak

Rasa takut adalah perasaan yang bisa dialami oleh setiap orang sebagai respon terhadap bahaya yang timbul, atau reaksi psikologis yang membantu memobilisasi tubuh seseorang untuk bereaksi terhadap bahaya dalam kehidupannya setiap hari. Dengan reaksi ini, perangai dan perilaku seseorang bisa berubah secara otomatis untuk mengantisipasi bahaya yang datang. Perasaan ini timbul dari dalam diri seseorang ditandai dengan cepatnya detakan jantung dan menghindar dari tempat atau situasi yang tidak nyaman.

Akan tetapi, balita tidak bisa melakukan hal yang sama layaknya orang dewasa ketika menghadapi rasa takut. Ketika rasa takut melanda si kecil, dia akan mencari perlindungan orang tuanya. Reaksi itu akan disampaikan melalui perkataan atau tindakan. Terkadang rasa takut yang timbul dalam diri anak-anak datang tanpa sebab. Bahkan hanya dengan ilusi sederhana saja si anak sudah takut.

Perkembangan Rasa Takut

Reaksi dari rasa takut yang dialami oleh bayi hanya bisa dikenal dan diungkapkannya ketika dia sudah di akhir usia 4 bulan. Pada usia ini, kita dapat mencermati rasa takut bayi akan timbul ketika si bayi melihat sesuatu yang tidak dikenalnya atau sesuatu yang asing baginya. Sebagai respon rasa takutnya, biasanya si bayi akan langsung mencari orang tuanya dan mendekapnya. Hingga hampir genap usia 1 tahun, si bayi suka sekali main sendiri, dan rasa takut itu sedikit demi sedikit mulai berkurang. Di usia ini, si bayi sudah bisa menyampaikan pesan perasaan menerima, suka, menolak, ataupun takut. Setelah genap usia 1,5 tahun (satu setengah tahun), rasa takut terhadap orang yang tidak dikenal sudah berkurang, maka dia sudah bisa berinteraksi dan berbagi dengan lingkungan sekitar, serta sudah bisa bermain dengan yang lain.

Semenjak usia ini juga, akan nampak indikasi atau tanda-tanda perilaku yang bermasalah dari si bayi. Dengan usianya yang bertambah, dia sudah bisa mengenal dirinya. Apabila pendidikan dan pengasuhan anak dilakukan dengan baik, maka dia akan menangkap dan mudah untuk berinteraksi dengan orang lain. Si anak akan berani menghadapi resiko dan tidak takut terhadap situasi yang menyulitkannya. Dengan demikian, keterkaitannya dengan orang tua akan berkurang ketika menghadapi rasa takut. Variasi pendidikan dan pengasuhan orang tua yang diberikan kepada anak dapat menanamkan rasa percaya diri pada anak dan tidak cemas tatkala menghadapi rasa takut.

Thursday, May 23, 2013

Pentingnya Motivasi Dalam Mendidik Perilaku Anak

Memberikan pujian dan penghormatan atas prestasi anak merupakan salah satu metode pendidikan dasar dalam pembinaan perilaku anak. Pujian harus diberikan kepada siapa saja yang berperilaku baik, terutama kepada anak, dan jangan sampai ditunda-tunda. Sebab hal ini juga merupakan alat dan sarana yang ampuh dalam mencetak jiwa seseorang, menghilangkan pandangan negatifnya, serta membangun rasa percaya dirinya. Pujian ini tidak hanya dibutuhkan oleh anak-anak saja, tetapi orang dewasa adakalanya juga membutuhkannya. Sikap ini merupakan refleksi dari penerimaan lingkungan terhadap seseorang. Dan terkadang ini memiliki pengaruh besar dalam jiwa seseorang sebagai bukti sehatnya kondisi psikologisnya.

Seorang anak kecil yang dipuji karena perangainya yang baik budi akan menjadikannya merasa semangat untuk terus mempertahankan dedikasinya tersebut dan mengulanginya pada suatu saat nanti. Misalnya, ketika si kecil yang biasanya mengompol kemudian tidak mengompol di malam hari, maka si ibu sebaiknya langsung memuji perangainya; baik dengan mencium si kecil, memujinya, memberinya motivasi, atau memberinya hadiah.

Pujian atau rasa senang dari orang yang banyak merupakan pujian pada level yang tinggi dan sangat mempengaruhi watak dan perilaku seseorang, baik anak-anak maupun orang dewasa. Semua bentuk ekspresi wajah yang senang dan berseri-seri ini merupakan ungkapan perasaan yang mudah dilakukan, apalagi terhadap anak-anak. Masa kanak-kanak adalah masa yang sangat membutuhkan perasaan ini. Terkadang orang tua sedikit pelit memberikan ungkapan atau perhatian terhadap perilaku anak yang baik dan tidak mau memuji anak dengan perkataan yang manis, atau memberikan sedikit ekspresi wajah yang ceria karena anaknya yang pintar.

Friday, May 17, 2013

Cara Mengatasi Si Kecil Sering Membenturkan Kepala

Pada umumnya anak lelaki lebih sering membenturkan kepalanya dibanding anak perempuan. Kebiasaan ini biasanya terjadi saat si kecil berusia 6 bulan ke atas, dan mencapai puncaknya pada usia 18-24 bulan. Ada banyak alasan kenapa si kecil suka membenturkan kepalanya, diantaranya; untuk menenangkan diri dan membuatnya merasa nyaman, sebagai pereda nyeri ketika tumbuh gigi atau yang lainnya. Mungkin dengan ini rasa sakitnya bisa teralihkan. Alasan lainnya adalah karena frustasi. Ketika si kecil membenturkan kepala saat tantrum, sangat mungkin dikarenakan frustasi yang mendalam. Si kecil telah mengetahui banyak hal, akan tetapi tidak bsa mengungkapnya dengan kata-kata. Dan yang terakhir adalah karena mencari perhatian.

Ketika segala permintaan anak selalu dituruti tanpa ada sikap yang bijak dari keluarga, maka pada saat meminta hal tertentu dan tidak dituruti, si kecil akan merasa stres dan frustasi. Dalam kondisi seperti ini segala kemungkinan bisa terjadi, karena si kecil tidak dapat menahan emosinya. Bisa saja dilampiaskan dengan kemarahan dengan menjerit atau membenturkan kepala ke dinding, lantai atau ranjangnya. Hal tersebut tentunya membahayakan pertumbuhan si kecil.

Untuk itu, orang tua dituntut untuk bisa menuntun dan bersikap bijak kepada anak. Keluarga harus bisa menciptakan suasana yang kondusif, agar balita bisa merasa aman dan tenang. Jangan sampai terlalu mengikuti dan menuruti permintaan anak. Peran orang tua sangat penting dalam hal ini. Dia harus bisa mengarahkan dan memahamkan anaknya ketika dia meminta hal yang macam-macam.Sebab perilaku ini apabila dibiarkan dan terus dituruti akan berkembang dan tumbuh sesuai dengan tingkatan umurnya. Pada akhirnya orang tua yang akan kerepotan dan merasa cemas.

Thursday, May 2, 2013

Kiat Mengendalikan Amarah Pada Anak

Terkadang, anak-anak  bisa melakukan hal-hal yang membuat kita marah. Kenakalan anak  sangat wajar terjadi. Rasa marah atau kesal karena kenakalan anak memang  tidak dilarang. Tapi, jangan meluapkannya dengan membentak atau memarahi  anak dengan nada tinggi dan kasar, bahkan kekerasan fisik sekalipun. Ada  beberapa kiat untuk mengatasi kemarahan pada anak:
Saat anak mulai mengesalkan dan membuat marah, tariklah nafas dalam-dalam secara perlahan. Tindakan ini akan mencegah Anda berkata kasar atau membentak si anak. Ulangi beberapa kali sampai perasaan sedikit tenang, sebelum Anda mengatakan atau berbuat apapun. Setelah tenang, otak pun akan berpikir lebih jernih sehingga Anda bisa mengontrol apa yang akan Anda bicarakan nantinya. 2. Ketika amarah mulai memuncak, memang sulit mengontrol diri. Tapi ingat, Anda sedang berhadapan dengan anak Anda sendiri. Cobalah pikirkan sifat-sifat positif yang ada pada diri si anak. Bayangkan bagaimana lucunya dia saat mulai belajar merangkak atau saat dia tertawa polos ketika Anda ingin memotretnya. Mengingat hal-hal baik dari anak, akan membantu Anda meredakan kemarahan dan bertindak lebih terkontrol. 3. Setelah berhasil mengontrol diri, ajak anak Anda bicara dari hati ke hati. Dalam hal ini, bertindaklah seperti teman. Posisikan tubuh Anda sejajar dengan tinggi badannya, tatap mata lalu bicara dengan nada pelan. Tanyakan kenapa dia berbuat sesuatu yang membuat Anda marah, apa yang diinginkannya. Sebaliknya, jangan menyuruhnya harus begini atau begitu. 4. Belajarlah lebih sensitif terhadap perasaan anak. Ketahui apa yang ditakutinya, keinginan, ketertarikan dan apa yang tidak disukainya. Dengan memahami anak, maka Anda bisa menyikapi masalah sesuai sudut pandang si anak. 5. Jika memang rasa marah seperti tidak bisa ditahan lagi, pergilah sebentar sebelum memulai pembicaraan dengan anak. Tinggalkan dia ke ruangan lain, jernihkan pikiran sebentar. Setelah lebih tenang, Anda bisa berkomunikasi lagi dengan anak Anda.

Read more http://www.infospesial.net/5951/5-tips-menahan-emosi-saat-memarahi-anak/
  • Saat anak mulai  mengesalkan dan membuat marah, tariklah nafas dalam-dalam secara  perlahan. Tindakan ini akan mencegah Bunda berkata kasar atau membentak  si anak. Ulangi beberapa kali sampai perasaan sedikit tenang, sebelum  Bunda mengatakan atau berbuat apapun. Setelah tenang, otak pun akan  berpikir lebih jernih sehingga Bunda bisa mengontrol apa yang akan Bunda  bicarakan nantinya. Jika memang rasa marah sepertinya tidak bisa ditahan lagi, pergilah  sebentar sebelum memulai pembicaraan dengan anak. Tinggalkan dia ke  ruangan lain, jernihkan pikiran sebentar. Setelah lebih tenang, Bunda  bisa berkomunikasi lagi dengan anak Bunda.
  • Ketika amarah mulai memuncak, memang sulit mengontrol diri. Tapi  ingat, Bunda sedang berhadapan dengan anak Bunda sendiri. Anak berbeda dengan orang dewasa, anak bukan miniatur orang dewasa, mereka berpikir dan bersikap dengan "caranya" sendiri sehingga dengan Bunda menyadari hal ini maka akan  membantu Bunda meredakan kemarahan. Di sinilah peran Bunda untuk membantunya belajar mengungkapkan perasaan, menyatakan keinginan dengan cara yang benar. Dalam hal ini, bertindaklah seperti teman. Posisikan tubuh Anda  sejajar dengan tinggi badannya, tatap mata lalu bicara dengan nada  pelan. Tanyakan kenapa dia berbuat sesuatu yang membuat Bunda marah, apa  yang diinginkannya. Sebaliknya, jangan menyuruhnya harus begini atau  begitu.  Belajarlah lebih sensitif terhadap perasaan anak. Ketahui apa yang  ditakutinya, keinginan, ketertarikan dan apa yang tidak disukainya.  Dengan memahami anak, maka Bunda bisa menyikapi masalah sesuai sudut  pandang si anak.
  • Jaga kondisi Bunda dari rasa lelah yang berlebihan dan lapar. Karena kedua keadaan tersebut, jika salah satunya terjadi pada Bunda, Bunda akan sangat gampang terpancing emosi, apalagi jika kedua keadaan tersebut bergabung ada pada diri Bunda. Maka, alangkah baiknya jika Bunda terlalu lelah, sebaiknya anak-anak bisa dititipkan misal pada ayahnya untuk sejenak Bunda bisa istirahat atau tidur. Sempatkan makan sesibuk apapun Bunda, apalagi jika Bunda sedang menyusui.
  • Saat Bunda hendak marah, maka ingatlah untuk tidak sembarangan dalam mengeluarkan perkataan. Jangan beri stempel negatif seperti, "anak nakal", "anak pembangkang", dll. Ucapan adalah doa, apalagi jika itu berasal dari perkataan seorang ibu. Semoga apa yang keluar dari perkataan kita saat marah pada anak adalah hal-hal baik. Jika saya marah, saya jadi ingat dengan kisah syaikh Abdurrahman As-Sudais, seorang ulama dan imam besar Masjidil Haram. Akhirnya, kalau saya marah kepada putri saya, Shofiya (2,5 tahun), "Shofiya...jadi anak sholehah ya Nak, hafidzoh, dokter muslimah yang bermanfaat bagi umat, Allahu yahdikum (semoga Allah memberimu petunjuk), Baarakallahu fiyk (semoga Allah memberimu keberkahan)." Atau saya diam.
Saat anak mulai mengesalkan dan membuat marah, tariklah nafas dalam-dalam secara perlahan. Tindakan ini akan mencegah Anda berkata kasar atau membentak si anak. Ulangi beberapa kali sampai perasaan sedikit tenang, sebelum Anda mengatakan atau berbuat apapun. Setelah tenang, otak pun akan berpikir lebih jernih sehingga Anda bisa mengontrol apa yang akan Anda bicarakan nantinya. 2. Ketika amarah mulai memuncak, memang sulit mengontrol diri. Tapi ingat, Anda sedang berhadapan dengan anak Anda sendiri. Cobalah pikirkan sifat-sifat positif yang ada pada diri si anak. Bayangkan bagaimana lucunya dia saat mulai belajar merangkak atau saat dia tertawa polos ketika Anda ingin memotretnya. Mengingat hal-hal baik dari anak, akan membantu Anda meredakan kemarahan dan bertindak lebih terkontrol. 3. Setelah berhasil mengontrol diri, ajak anak Anda bicara dari hati ke hati. Dalam hal ini, bertindaklah seperti teman. Posisikan tubuh Anda sejajar dengan tinggi badannya, tatap mata lalu bicara dengan nada pelan. Tanyakan kenapa dia berbuat sesuatu yang membuat Anda marah, apa yang diinginkannya. Sebaliknya, jangan menyuruhnya harus begini atau begitu. 4. Belajarlah lebih sensitif terhadap perasaan anak. Ketahui apa yang ditakutinya, keinginan, ketertarikan dan apa yang tidak disukainya. Dengan memahami anak, maka Anda bisa menyikapi masalah sesuai sudut pandang si anak. 5. Jika memang rasa marah seperti tidak bisa ditahan lagi, pergilah sebentar sebelum memulai pembicaraan dengan anak. Tinggalkan dia ke ruangan lain, jernihkan pikiran sebentar. Setelah lebih tenang, Anda bisa berkomunikasi lagi dengan anak Anda.

Read more http://www.infospesial.net/5951/5-tips-menahan-emosi-saat-memarahi-anak/

Monday, April 22, 2013

Mengatasi Rasa Cemburu Anak Pada Adiknya

Dokter Muslimah
Rasa cemburu merupakan sifat alami dan normal pada setiap manusia, baik pada anak-anak, remaja maupun orang dewasa. Sifat cemburu tampak pada anak ketika umurnya beranjak 2 tahun. Pada usia 3 tahun, sifat ini akan bertambah, dengan menunjukkan sifat emosionalnya dan suka memiliki. Di usia ini, sering terdengar dari mulutnya yang mungil perkataan; "ini punya saya", dan semisalnya. Sebagian orang tua ada yang mengadu, "Anak saya suka cemburu pada saudaranya. Dia juga suka mengambil dan mengaku memiliki barang milik saudaranya". Rasa memiliki ini juga akan terlihat dari kelakuannya, seperti suka mengambil mainan atau barang orang lain, tidak mau memberi atau meminjamkan miliknya kepada orang lain. Tidak perlu cemas, karena perilaku ini akan berubah dengan sendirinya ketika dia sudah berumur 4 tahun.

Rasa cemburu yang ada pada anak balita akan tampak jelas ketika dia sudah mengenal aktifitas berinteraksi dengan anggota keluarganya. Si kecil akan berupaya dengan berbagai usahanya untuk tidak membiarkan orang tuanya yang sedang berbincang-bincang berduaan. Cara yang dilakukan si kecil biasanya adalah dengan memotong pembicaraan orang tuanya atau dengan melakukan sesuatu untuk mencari perhatian. Bukan hanya cemburu pada ayah yang sedang berbicara dengan ibunya, si anak juga akan merasakan hal yang sama ketika orang tuanya sedang berbincang-bincang dengan saudara-saudaranya.

Jika si kecil sudah tidak tahan lagi dengan rasa cemburunya dan hal-hal kecil yang dilakukannya tidak ampuh, maka dia akan melakukan perbuatan yang lebih ekstrim. Sikap ekstrim dan perilaku anak yang berlebihan ini akan sangat tampak ketika ibunya sedang sibuk mengurusi adiknya yang masih bayi. 

Dari hasil pengamatan, rasa cemburu anak juga tampak pada saudara-saudaranya yang lebih besar. Si kecil akan meminta mainan atau barang milik kakaknya, yang tujuannya hanya untuk mencabut kepemilikan barang tersebut dari kakaknya. Nah, apabila perilaku ini dibiarkan, dan segala permintaan dan tuntutannya dituruti, dikhawatirkan hal ini akan berkembang dan menjadi lebih parah.

Tuesday, March 19, 2013

Mencermati Perkembangan Mental Anak Balita (Skala Yaumil Mimi)

Dokter Muslimah
Mempelajari tumbuh kembang anak, sepertinya tidak akan dengan mudah diingat jika tidak dipraktekkan dengan melihat langsung dan mengikuti perkembangannya dari awal. Seperti yang saya alami, meskipun dulu sudah pernah belajar di bagian anak, akan tetapi gampang banget lupa. Sekarang teraplikasikan saat melihat perkembangan keponakan saya, Airin, yang sekarang sudah berumur 3 bulan 7 hari. (maklum si dedek dalam perut belum lahir). Alhamdulillah, sekarang kami sudah dikaruniai 2 orang cahaya mata.

Banyak cara untuk menilai pertumbuhan dan perkembangan anak, mulai dari kartu menuju sehat untuk memantau tinggi dan berat bayi, hingga tes perkembangan seperti tes IQ, tes prestasi, tes psikomotorik, tes proyeksi, hingga tes perilaku adaptif. Ada juga tes skrining perkembangan menurut Denver untuk skrining kelainan perkembangan anak.

Bagian Psikologi Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia bersama Unit Kerja Pediatri Sosial Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyusun skema praktis perkembangan mental anak balita yang disebut: Skala Yaumil-Mimi. Sekarang mari coba dipraktekkan skala yang sederhana ini dengan menilai perkembangan anak-anak kecil di sekitar kita, bisa anak kita sendiri, adik atau mungkin keponakan.