Thursday, November 12, 2015

Manfaat Kulit Rambutan Sebagai Antidiabetes

Herbal Medicine Indonesia

Indonesia sejak dulu kala telah dikenal dengan keragaman hayatinya yang terbukti bermanfaat bagi kesehatan. Pusat penelitian dan pengembangan tanaman obat dan obat tradisional yang berada di Tawangmangu - Karanganyar - Jawa Tengah merupakan salah satu lembaga penelitian tanaman obat di Indonesia. Sedangkan salah satu kampus di Indonesia yang tengah giat mengembangkan Wahana Edukasi Tanaman Obat dan konsen dalam penelitian tentang herbal medicine adalah Universitas Jember (UNEJ). 

Herbal medicine UNEJ mengalami perkembangan yang patut dibanggakan dan anda bisa mendapatkan informasi lengkap mengenai Wahana Edukasi Tanaman Obat UNEJ dan agroteknopark UNEJ disini.

Pada tulisan kali ini kita akan membahas herbal medicine; ekstrak kulit rambutan, sebagai tanaman obat antidiabetes.

American Diabetes Association (ADA) 2006, mendefinisikan diabetes melitus (DM) sebagai suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau kedua-duanya. DM dibagi menjadi dua katagori utama berdasar pada sekresi insulin endogen yaitu insulin dependent diabetes mellitus (IDDM) dan non insulin dependent diabetes mellitus (NIDDM). NIDDM juga dikenal sebagai diabetes melitus tipe 2 (DM tipe 2).

Penelitian-penelitian epidemiologi menunjukkan bukti adanya peningkatan insiden DM di seluruh dunia termasuk Indonesia. WHO memprediksi kenaikan jumlah penderita DM di Indonesia menjadi hampir tiga kali lipat dari 8,4 juta pada tahun 2000 menjadi 21,3 juta jiwa pada tahun 2030. Komplikasi DM dapat mengenai beberapa organ, oleh karena itu penelitian mengenai mekanisme penyakit ini dan terapinya terus dikembangkan, salah satunya melalui pengembangan obat-obatan yang berasal dari alam (herbal).

Rambutan, dengan nama latin Nephellium lappaceum (N. lappaceum), merupakan jenis tanaman yang banyak ditemukan di daerah Asia Tenggara seperti Indonesia, yang ternyata memberikan manfaat bagi kehidupan manusia, termasuk juga kulit buahnya (Perera et al, 2012). Ekstrak kulit N. lappaceum diketahui memiliki sitotoksisitas yang rendah terhadap sel manusia dan tikus, memiliki kemampuan sebagai antioksidan kuat dan aktivitas free radical scavenging (Manaharan et al, 2012, Ling et al, 2012), antihiperglikemia dan anti infeksi (Bhat and Al-daihan, 2014).
 
Patogenesis DM tipe 2 salah satunya melalui produksi radikal bebas. Hiperglikemia merangsang pelepasan superoksida (O2 ) di tingkat mitokondria yang merupakan pemicu awal timbulnya stres oksidatif pada penderita DM dengan mengaktifkan nuclear factor kappa B cells (NF-κB), p38 mitogen-activated protein kinase (MAPK), jalur poliol (sorbitol), heksosamin, protein kinase C (PKC) dan advanced glicosilation product (AGEs) (gambar). Peningkatan PKC dan AGEs menyebabkan umpan balik positif sintesis ROS dan reactive nitrogen species (RNS) yang akan menimbulkan kelainan vaskuler pada DM.

Implikasi stres oksidatif pada patogenesis DM diduga bukan hanya akibat generasi radikal bebas oksigen tetapi juga akibat glikosilasi protein nonenzimatik, autooksidasi glukosa, gangguan metabolisme glutation, perubahan pada enzim antioksidan, senyawa peroksidasi lipid dan penurunan asam askorbat. Reaksi oksidasi seringkali menyebabkan kerusakan oksidatif. Akibatnya terjadi kerusakan atau kematian sel. Senyawa radikal bebas yang ada mengoksidasi dan menyerang komponen lipid membran sel. Namun, perlu dipahami bahwa reaksi oksidasi tidak hanya menyerang komponen lipid melainkan juga komponen penyusun sel lainnya seperti protein, lipoprotein maupun DNA.

Ekstrak kulit N. lappaceum memiliki fenolik total yang tinggi dan kapasitas antioksidan yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan antioksidan alami lainnya yang telah kita kenal sebelumnya seperti vitamin C, α-tocopherol, biji anggur dan teh hijau (Perera et al, 2012). Di dalam kulit N. lappaceum terutama berisi senyawa fenolik dibandingkan dengan total antosianin dan flavonoid (Maran et al., 2013). Dan aktivitas free radical scavenging pada rambutan (N. lappaceum) berhubungan dengan komponen fenoliknya (Thitilertdecha et al., 2011). Ekstrak kulit N. lappaceum mengandung tiga komponen fenolik utama yaitu geraniin, corilagin dan ellagic acid.
 
Penelitian mengenai geraniin menunjukkan bahwa senyawa ini memiliki kemampuan sebagai antioksidan tinggi dan kapasitas scavenging terhadap NO juga tinggi. Kemampuannya sebagai free radical scavenging menunjukkan bahwa geraniin dapat bereaksi dengan radikal bebas, menurunkan jumlah radikal bebas yang dapat menginduksi kerusakan sel, dan melindungi sel dari efek tidak lagsung radikal bebas yang dihasilkan oleh radiasi pengion (Palanisamy et al., 2008). Penambahan geraniin pada media kultur memberikan efek sitoprotektif melawan kerusakan yang diinduksi oleh peroxynitrite generator 3-morpholinosydnonomine (SIN-1) dan peroxyl radical generator 2,2’-azobis (2-amidinopropane) dihydrochloride (AAPH). Geraniin menunjukkan aktivitas antioksidan poten melawan ROS seperti nitric oxide (NO), superoxide anion (O2) dan peroxynitrite yang disintesis secara kimia (Ling et al., 2011). Umumnya, aktivitas radical scavenging polifenol bergantung pada struktur molekulnya. Adanya struktur katekol (grup orthodihidroxyl), diketahui sebagai target radikal bebas. Geraniin terdiri atas grup galloyl yang merupakan struktur hidroksil tambahan yang penting dihubungkan dengan kemampuan sebagai scavenging NO. Peningkatan jumlah grup galloyl memperkuat kapasitas antioksidan. Dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa geraniin sebagai komponen utama pada kulit N. lappaceum juga memiliki efikasi paling tinggi sebagai antioksidan. Sedangkan corilagin, juga memiliki grup galloyl menunjukkan aktivitas antioksidan lebih poten dibandingkan ellagic acid (Ling et al., 2011).
 
Pada tahun 2011, Palanisamy et al. melaporkan kemampuan geraniin sebagai free radical scavenging dan aktivitas hipoglikemik secara in vitro. Efek antihiperglikemik geraniin selain melalui kemampuannya sebagai antioksidan poten, juga sebagai inhibitor poten enzim penghidrolisis karbohidrat (α-glucosidase dan α-amylase) melebihi akarbose (carbohydrate hydrolysis inhibitor) sebagai kontrol positif. Geraniin lebih efektif mencegah poliol (aldol reductase inhibition) dan pembentukan hasil akhir dari glikasi lanjut dibandingkan quercetin dan teh hijau, sebagai kontrol positif. Sehingga geraniin kemudian dinyatakan sebagai kandidat ideal untuk manajemen hiperglikemia pada individu diabetes (Palanisamy, 2011). Nephelium lappaceum (kulit dan daunnya) menunjukkan kemampuan menonjol sebagai antioksidan dan inhibitor α-glucosidase dan α-amylase lebih baik dibanding Garcinia mangostana (kulitnya), sehingga perludilakukan penelitian lebih lanjut secara in vivo (Manaharan et al., 2012).

Jadi, dapat disimpulkan bahwa geraniin dan juga ekstrak kulit rambutan (N. lappaceum) dinyatakan sebagai kandidat ideal untuk manajemen hiperglikemia pada individu diabetes.



Referensi:

Bhat, R.S., Al-daihan, S. 2014. Antimicrobial Activity of Litchi chinensis and Nephelium lappaceum Aqueous Seed Extracts Against Some Pathogenic Bacterial Strains. Journal of king Saud University-Science; 26: p. 79-82
Ling, L.T., Saito, Y., Palanisamy, U.D., Cheng, H.M., Noguchi, N. 2012. Cytoprotective Effects of Geraniin Against Peroxynitrite- and Peroxyl Radical- Induced Cell Death Via Free Radical Scavenging Activity. Food Chemistry. 132: p. 1899-1907
Manaharan, T., Palanisamy, U.D., Ming, C.H. 2012. Tropical Plant Extracts as Potential antihyperglycemic Agents. Molecule; 17: p. 5915-5923
Maran, J.P., Manikandan, S., Nivetha, C.V., Dinesh, R. 2013. Ultrasound Assisted Extraction of Bioactive Compounds from Nephelium lappaceum L. Fruit Peel Using Central Composite Face Centered Response Surface Design. Arabian Journal of Chemistry; xxx
Perera, A., Appleton, D., Ying, L.H., Elendran, S., Palanisamy, U.D. 2012. Large Scale Purification of Geraniin From Nephelium lappaceum Rind Waste Using Reverse-Phase Chromatography. Separation and Purification Technology: 98: p. 145-149
Palanisamy, U.D., Ling, L., Manaharan, T., Appleton, D. 2011. Rapid Isolation of Geraniin from Nephelium lappaceum Rind Waste and Its Anti-hyperglycemic Activity. Food Chem; 127: p. 21-27
Palanisamy, U.D., Cheng, H.M., Masilamani, T., Subramaniam, T., Ling, L.T., Radhakrishnan, A.K. 2008. Rind of The Rambutan, Nephelium lappaceum, A Potential Source of Natural Antioxidants. Food Chem; 109 (1): p. 54–63
Palanisamy, U.D., Manaharan, T., Teng, L.L., Radhakrishnan, A.K.C., Subramaniam, T., Masilamani, T. 2011. Rambutan Rind in The Management of Hyperglycemia.Food Research International; 44: p. 2278-2282
Thitilertdecha, N., Rakariyatham, M. 2011. Phenolic Content and Free Radical Scavenging Activities in Rambutan during Fruit Maturation. Scientia Horticulturae; 129: p. 247-252
Thitilertdecha, N., Teerawutgulrag, A., Rakariyatham, N. 2008. Antioxidant and Antibacterial Activities of Nephelium lappaceum L. Extracts. LWT-Food Science and Technology; 41: p. 2029-2035

Artikel Terkait Herbal ,Herbal Medicine ,Obat herbal

No comments:

Post a Comment