Saturday, February 15, 2014

Kejang Demam dan Cara Penanganannya

kejang-demam
Kali ini saya ingin berbagi cerita dan pengalaman menghadapi kejang demam pada anak. Qadarullah, anak saya yang kedua juga mengalaminya. Kejang pertama kali terjadi saat ananda berumur 22 bulan. Saat itu ananda memang sedang demam, sekitar 39 derajat celcius. Sempat kaget karena sama sekali tidak mengira hal ini akan terjadi pada anak saya, mengingat saya dan suami tidak memiliki riwayat kejang demam saat kecil, begitu juga keluarga kami, sepengetahuan kami. Alhamdulillah anak pertama saya tidak mengalami hal ini.

Kejang selalu merupakan peristiwa yang menakutkan bagi orang tua. Pada saat kejang sebagian besar orang tua beranggapan bahwa anaknya akan meninggal. Kecemasan ini harus dikurangi dengan cara yang diantaranya:
  1. Mengetahui bahwa kejang demam umumnya mempunyai prognosis baik
  2. Mengetahui cara penanganan kejang
  3. Mengetahui adanya kemungkinan kejang kembali
  4. Pemberian obat untuk mencegah rekurensi memang efektif tetapi harus diingat adanya efek samping.

Apa yang dimaksud dengan kejang demam? Kejang demam ialah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rektal di atas 38 derajat celsius) yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium. Kejang demam terjadi pada 2-4% anak berumur 6 bulan – 5 tahun. Anak yang pernah mengalami kejang tanpa demam, kemudian mengalami kejang demam, tidak termasuk dalam kejang demam. Kejang disertai demam pada bayi berumur kurang dari 1 bulan tidak termasuk dalam kejang demam. Bila anak berumur kurang dari 6 bulan atau lebih dari 5 tahun mengalami kejang didahului demam, maka pikirkan kemungkinan lain misalnya infeksi SSP (sistem syaraf pusat), atau epilepsi yang kebetulan terjadi bersama demam.

Kejang pertama yang dialami anak saya berlangsung selama kurang dari 3 menit dan Alhamdulillah dalam 24 jam hanya terjadi kejang 1 kali. Mengapa hal ini penting karena saya berusaha mengklasifikasikan jenis kejang demam yang terjadi pada anak saya, karena akan sangat menentukan tata laksana dan prognosis. Kejang demam sederhana prognosisnya lebih baik dibanding kejang demam kompleks. Kejang demam sederhana adalah kejang demam yang berlangsung singkat, kurang dari 15 menit, dan umumnya akan berhenti sendiri. Kejang berbentuk umum tonik dan atau klonik, tanpa gerakan fokal. Kejang tidak berulang dalam waktu 24 jam. Kejang demam sederhana merupakan 80% di antara seluruh kejang demam. Klasifikasi kejang demam lainnya adalah kejang demam kompleks, yaitu kejang demam dengan salah satu ciri berikut ini:
  1. Kejang lama > 15 menit
  2. Kejang fokal atau parsial satu sisi, atau kejang umum didahului kejang parsial
  3. Berulang atau lebih dari 1 kali dalam 24 jam
Kejang lama adalah kejang yang berlangsung lebih dari 15 menit atau kejang berulang lebih dari 2 kali dan di antara bangkitan kejang anak tidak sadar. Kejang lama terjadi pada 8% kejang demam. Kejang berulang adalah kejang 2 kali atau lebih dalam 1 hari, di antara 2 bangkitan kejang anak sadar. Kejang berulang terjadi pada 16% di antara anak yang mengalami kejang demam.

Orang tua yang anaknya mengalami kejang demam, tentu ingin mengetahui apakah kejang demam yang dialami anaknya akan menyebabkan kecacatan atau kelainan neurologis lainnya. Ternyata, kejadian kecacatan sebagai komplikasi kejang demam tidak pernah dilaporkan. Perkembangan mental dan neurologis umumnya tetap normal pada pasien yang sebelumnya normal. Penelitian lain secara retrospektif melaporkan kelainan neurologis pada sebagian kecil kasus, dan kelainan ini biasanya terjadi pada kasus dengan kejang lama atau kejang berulang baik umum atau fokal. Kematian karena kejang demam tidak pernah dilaporkan Kejang demam akan berulang kembali pada sebagian kasus. Sehingga perlu diantisipasi jika hal ini terjadi. Faktor risiko berulangnya kejang demam adalah :
  1. Riwayat kejang demam dalam keluarga
  2. Usia kurang dari 12 bulan
  3. Temperatur yang rendah saat kejang
  4. Cepatnya terjadi kejang saat demam
Bila seluruh faktor di atas ada, kemungkinan berulangnya kejang demam adalah 80%, sedangkan bila tidak terdapat faktor tersebut kemungkinan berulangnya kejang demam hanya 10%-15%. Kemungkinan berulangnya kejang demam paling besar pada tahun pertama. Faktor risiko lain adalah terjadinya epilepsi di kemudian hari. Faktor risiko menjadi epilepsi adalah :
  1. Kelainan neurologis atau perkembangan yang jelas sebelum kejang demam pertama.
  2. Kejang demam kompleks
  3. Riwayat epilepsi pada orang tua atau saudara kandung
Masing-masing faktor risiko meningkatkan kemungkinan kejadian epilepsi sampai 4%-6%, kombinasi dari faktor risiko tersebut meningkatkan kemungkinan epilepsi menjadi 10%-49%. Kemungkinan menjadi epilepsi tidak dapat dicegah dengan pemberian obat rumat pada kejang demam.

Beberapa hal yang harus dikerjakan bila kembali kejang, antara lain:
  1. Tetap tenang dan tidak panik
  2. Kendorkan pakaian yang ketat terutama disekitar leher
  3. Bila tidak sadar, posisikan anak terlentang dengan kepala miring untuk menghindari masukanya muntahan atau lendir ke saluran pernapasan (aspirasi). Bersihkan muntahan atau lendir di mulut atau hidung. Walaupun kemungkinan lidah tergigit, jangan memasukkan sesuatu kedalam mulut. Kalau saya dan suami memutuskan untuk meletakkan kain di mulut karena kekhawatiran akan tergigitnya lidah anak.
  4. Ukur suhu, observasi dan catat lama dan bentuk kejang.
  5. Tetap bersama pasien selama kejang
  6. Berikan diazepam rektal. Dan jangan diberikan bila kejang telah berhenti.
  7. Bawa ke dokter atau rumah sakit bila kejang berlangsung 5 menit atau lebih atau berulang.
Maka sebelum kejang terjadi pada anak dengan riwayat kejang demam, orang tua harus:
  1. Selalu siap sedia obat penurun demam (antipiretik), meskipun tidak ditemukan bukti bahwa penggunaan antipiretik mengurangi risiko terjadinya kejang demam, namun para ahli di Indonesia sepakat bahwa antipiretik tetap dapat diberikan. Karena pencetusnya demam, maka menurut saya penting menurunkan suhunya, yaitu saat suhu badan mencapai > 38-38,5 derajat Celsius. Obat yang dapat digunakan adalah parasetamol (diberikan 3 kali sehari dan tidak lebih dari 5 kali sehari) dan ibuproven (diberikan 3-4 kali sehari).
  2. Saat anak demam, jangan lupa untuk mengompres, karena saya buktikan sendiri sangat besar manfaatnya dalam membantu menurunkan panas. Kompres ini merupakan cara sederhana yang seringkali dilupakan atau salah dalam melakukan. Kompres menggunakan air hangat, kain diletakkan di seluruh badan tidak hanya di dahi, tetapi juga di punggung, leher, ketiak, dada, kaki, tangan, dll. dan saya anjurkan untuk membuka baju anak saat dikompres untuk meningkatkan proses pengeluaran panas dari dalam tubuh dan memudahkan dalam mengompres.
  3. Berikutnya adalah selalu siap sedia diazepam rektal di rumah (obat ini bisa dibeli hanya dengan menggunakan resep dokter), diletakkan di kulkas, dan jangan lupa menayakan cara pemakaiannya kepada petugas medis atau apoteker agar tidak bingung saat diperlukan.
Semoga bermanfaat ...



dr. Desie Dwi Wisudanti



Sumber: Konsensus Penatalaksanaan Kejang Demam oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), 2006.



Artikel Terkait Anak dan Balita

1 comment:

  1. Siiip gan artikelnya, sebagai info, kejang demam bisa dicegah salah satunya dengan Gelang Step

    ReplyDelete