Wednesday, December 11, 2013

Si Kecil Keras, Suka Mengobrak-Abrik dan Bikin Berantakan



Sikap keras, suka menjerit, dan merusak yang sering dilakukan oleh balita, dalam ilmu kedokteran dikenal dengan istilah temper tantrum. Temper tantrum adalah suatu letupan amarah anak di saat anak mulai menunjukkan kemandirian dengan sikap negatifnya, seperti menggunakan alat-alat yang ada ditangannya. Dalam kondisi ini si kecil sedang lepas kendali, sehingga dia kadang melempar gelas, piring, mengetok-ngetok perabotan rumah, mencorat-coret, mengoyak dan mencabik-cabik kertas, mengobrak-abrik barang dan perilaku negatif lainnya.

Ulah dan tingkah laku seperti ini adalah normal-normal saja dilakukan oleh anak pada fase pasif. Hal ini menunjukkan perkembangan kecerdasan anak dan semangat beraktifitasnya. Umumnya, tingkah laku tersebut dilakukan oleh balita dengan umur antara 1,5 hingga 3 tahun. Pada usia ini balita akan mengalami perkembangan sifat, sudah mengenal dirinya, suka berbohong, dan suka memiliki.

Perilaku anak seperti ini juga bisa kian bertambah disebabkan oleh faktor orang tua, misalnya; karena terlalu berlebihan dalam memanjakan sang anak. Hal tersebut bisa juga disebabkan karena kurangnya kasih sayang orang tua pada si anak; seperti orang tua yang kurang memberinya perhatian, meresponnya dan memperlakukannya secara kasar.

Solusi yang paling ampuh untuk mengatasi sikap anak ketika mengalami temper tantrum adalah menjaga mental dan psikologinya dari dalam dirinya sendiri. Contohnya, membiarkan apa yang sedang dia lakukan. Jangan membentak dan memarahinya! Karena setelah merasa bosan dan tahu bahwa yang dilakukannya tidak berpengaruh pada dirinya, dia akan meninggalkan perbuatan tersebut. Nah, secara tidak langsung ulah dan tindakannya itu akan teratasi dengan sendirinya.


Jika dicermati, umumnya perilaku-perilaku anak yang bermasalah tersebut, nyaris tidak ada ketika mereka sedang sendirian dan tidak ditemani siapa pun. Sebaliknya, pada saat orang sedang ramai si anak akan mencari perhatian dan berbuat sesuka hatinya.

Pada saat sang buah hati sudah memasuki usia empat tahun, ternyata ulah dan tingkahnya masih juga berkelanjutan, atau bahkan semakin bertambah ke watak, sikap dan perilakunya, maka sebaiknya konsultasikan apa yang dialami oleh sang anak ke dokter spesialis anak.

Artikel Terkait Parenting

No comments:

Post a Comment