Sunday, July 21, 2013

Mengatasi Rasa Takut Pada Anak

Rasa takut adalah perasaan yang bisa dialami oleh setiap orang sebagai respon terhadap bahaya yang timbul, atau reaksi psikologis yang membantu memobilisasi tubuh seseorang untuk bereaksi terhadap bahaya dalam kehidupannya setiap hari. Dengan reaksi ini, perangai dan perilaku seseorang bisa berubah secara otomatis untuk mengantisipasi bahaya yang datang. Perasaan ini timbul dari dalam diri seseorang ditandai dengan cepatnya detakan jantung dan menghindar dari tempat atau situasi yang tidak nyaman.

Akan tetapi, balita tidak bisa melakukan hal yang sama layaknya orang dewasa ketika menghadapi rasa takut. Ketika rasa takut melanda si kecil, dia akan mencari perlindungan orang tuanya. Reaksi itu akan disampaikan melalui perkataan atau tindakan. Terkadang rasa takut yang timbul dalam diri anak-anak datang tanpa sebab. Bahkan hanya dengan ilusi sederhana saja si anak sudah takut.

Perkembangan Rasa Takut

Reaksi dari rasa takut yang dialami oleh bayi hanya bisa dikenal dan diungkapkannya ketika dia sudah di akhir usia 4 bulan. Pada usia ini, kita dapat mencermati rasa takut bayi akan timbul ketika si bayi melihat sesuatu yang tidak dikenalnya atau sesuatu yang asing baginya. Sebagai respon rasa takutnya, biasanya si bayi akan langsung mencari orang tuanya dan mendekapnya. Hingga hampir genap usia 1 tahun, si bayi suka sekali main sendiri, dan rasa takut itu sedikit demi sedikit mulai berkurang. Di usia ini, si bayi sudah bisa menyampaikan pesan perasaan menerima, suka, menolak, ataupun takut. Setelah genap usia 1,5 tahun (satu setengah tahun), rasa takut terhadap orang yang tidak dikenal sudah berkurang, maka dia sudah bisa berinteraksi dan berbagi dengan lingkungan sekitar, serta sudah bisa bermain dengan yang lain.

Semenjak usia ini juga, akan nampak indikasi atau tanda-tanda perilaku yang bermasalah dari si bayi. Dengan usianya yang bertambah, dia sudah bisa mengenal dirinya. Apabila pendidikan dan pengasuhan anak dilakukan dengan baik, maka dia akan menangkap dan mudah untuk berinteraksi dengan orang lain. Si anak akan berani menghadapi resiko dan tidak takut terhadap situasi yang menyulitkannya. Dengan demikian, keterkaitannya dengan orang tua akan berkurang ketika menghadapi rasa takut. Variasi pendidikan dan pengasuhan orang tua yang diberikan kepada anak dapat menanamkan rasa percaya diri pada anak dan tidak cemas tatkala menghadapi rasa takut.

Beberapa Faktor Penyebab Rasa Takut

Diantara faktor-faktor yang menyebabkan rasa takut pada anak adalah:
  1. Perhatian orang tua yang berlebihan
  2. Semua orang tua tentunya menyayangi dan mencintai anaknya, bahkan sebagian orang tua sangat memanjakan si anak. Terkadang perhatian dan rasa sayang orang tua pada anak yang berlebihan bisa menjadi faktor penyebab rasa takut pada si anak. Karena rasa sayangnya, orang tua kadang melarang si anak melakukan sesuatu dengan menakut-nakutinya. Rasa sayang ortu yang berlebihan seperti ini bisa menjadi penyebab rasa takut pada anak.  
  3. Menonton film horor
  4. Terkadang keluarga tidak memperhatikan materi tontonan anak-anak. Mereka kurang memperhatikan bahwa terkadang televisi atau media hiburan memberikan tayangan horor dan menakutkan. Biasanya anak-anak tidak menampakkan rasa takutnya secara langsung, namun rasa takut itu akan timbul dari perangai atau sifatnya. Misalnya, anak takut tidur sendirian atau bermimpi buruk.
  5. Cerita dongeng horor
  6. Menceritakan kisah atau dongen horor dapat menyebabkan rasa takut pada anak. Sebaiknya sebagai orang tua kita menghindari untuk menceritakan dongeng-dongen horor kepada anak kita.
  7. Takut melihat binatang
  8. Jika dicermati, pada awalnya anak akan sering bermain dengan binatang tanpa rasa takut dengan bahaya binatang tersebut. Karena rasa kawatir, orang tuannya menakut-nakuti atau langsung mengangkat dengan sikap kawatir. Dari sikap orang tua yang disaksikan dan dirasakan si anak, lama-kelamaan akan muncul rasa takut pada diri si anak. Ketika rasa takut si anak sudah muncul, biasanya dia akan mencari perlindungan orang tua. Pada saat seperti ini, orang tua harus pandai-pandai mencari cara yang baik untuk berinteraksi dengan anak, dan memahamkan kepadanya tentang rasa takut yang dialaminya, serta mencarikan solusi yang tepat untuk menghilangkan rasa takut si anak.
  9. Dipukul atau dimarahi orang tua
  10. Metode pendidikan anak yang keras seperti bentakan dan pemukulan sebagai sanksi ketika anak melakukan perbuatan yang tidak wajar, bisa menghilangkan rasa percaya diri atau menimbulkan rasa minder (takut) pada si anak. Hendaknya kita sebagai orang tua menghindari nya sebisa mungkin. Kalaupun perilaku anak membuat kita marah dan kehilangan kesabaran terlebih saat-saat puasa Ramadhan seperti sekarang ini, tetaplah untuk mengeluarkan kata-kata atau umpatan yang baik sebagai doa kepada si anak. Memang kita diperbolehkan untuk memukul anak ketika anak tidak mengerjakan sholat di usia 10 tahun, tapi perlu diingat bahwa pukulan tersebut tidak menyakitkan (di ambil bagian2 yang tidak menyebabkan rasa sakit seperti pantat), itupun masih ada aturan-aturan besar alat pukul yang digunakan dan kerasnya pukulan yang diperbolehkan.
  11. Interaksi yang kurang baik dari pembantu, pengasuh anak, supir atau orang sekitar
  12. Terkadang karena kepercayaan yang kuat orang tua pada orang-orang dekatnya (pembantu, sopir dll), orang tua kurang memperhatikan perangai mereka yang mungkin suka membentak, marah atau bahkan memukul.
  13. Keributan, perselisihan pendapat atau percekcokan dalam keluarga yang disaksikan oleh anak.
  14. Banyak orang beranggapan bahwa anak-anak yang masih kecil tidak akan mengerti apa-apa. Padahal tidaklah demikian. Karena sebenarnya anak-anak juga memahami keributan itu dan turut membentuk karakter anak, di antaranya akan menciptakan rasa takut (minder) pada dirinya.
  15. Lahirnya bayi di keluarga
  16. Perlu diperhatikan bahwa anak-anak adalah manusia yang paling sensitif. Ketika ada bayi yang baru lahir di keluarga, maka si anak akan merasa takut kehilangan hak-haknya, dirampas kasih sayang keluarga terhadap dirinya, dan berkurang perhatian kedua orang tua kepadanya. Rasa takut pada kondisi seperti ini sangat tergantung dari sikap orang tua dan keluarganya. Apabila tidak diantisipasi dengan cepat dan diarahkan dengan jeli, maka lambat laun akan mengakibatkan perubahan sifat dan perangai anak seperti mengompol, sering rewel atau yang lainnya. 

Cara Mengatasi Rasa Takut

Rasa takut bisa timbul dalam bentuk yang berbeda-beda, ada yang sesaat, sementara dan terkadang ada yang berkelanjutan. Rasa takut akan diungkapkan oleh anak sesuai dengan usianya, karena itu orang tua harus benar-benar mampu mencari tahu penyebab rasa takut pada anak dan mencari solusi  yang bisa mengurangi rasa takut tersebut. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan orang tua untuk mengatasi rasa takut yang dialami anak, diantaranya:
  • Jangan terkejut dengan rasa takut yang dialami si kecil! Dengarkan saja, dan bantu si kecil supaya mau mengungkapkan rasa takutnya itu.
  • Berusahalah mengetahui penyebab rasa takut itu
  • Berikan rasa cinta, rasa aman dan kasih sayang kepada si anak melalui perkataan, sikap dan perbuatan.
  • Perlihatkanlah perasaan yang spesial kepada si anak. Nyatakan bahwa dia adalah bagian terpenting dalam kehidupan kita.
  • Berbicaralah dengan si kecil sekan dia adalah orang yang dapat mengerti apa yang dibicarakan, walaupun sebenarnya tidak demikian. Karena perasaan emosionalnya akan saling berhubungan.
  • Hindari mengejek, membentak, memarahi atau memukulnya karena takut.
  • Apabila rasa takut pada diri anak kita masih terus berkelanjutan, seperti takut tidur sendirian, maka bantulah anak dengan mengajaknya berbicara membahas rasa takutnya.
  • Jauhkan anak dari tayangan-tayangan horor dan menakutkan
  • Pastikan anak anda tidak dikasari oleh pembantu, pengasuh, sopir atau tetangga.
  • Apabila sudah tiba waktunya masuk sekolah, dan si anak membuat ulah tidak mau pergi sekolah, maka berilah dia motivasi dan semangat.

Semoga bermanfaat.



dr. Desie Dwi Wisudanti dan suami


Referensi:
Seni Mendidik & Mengatasi Masalah Perilaku Anak Secara Islami, karangan Dr. Abdullah Muhammad Ash-Shubbi.

Artikel Terkait Parenting

No comments:

Post a Comment