Friday, June 28, 2013

Keguguran: Gejala dan Penanganan

Keguguran atau yang dalam istilah kedokteran dikenal sebagai aborsi (abortus) adalah pengeluaran hasil konsepsi atau pembuahan sebelum janin dapat hidup di luar kandungan, dengan berat badan janin kurang dari 500 gram dan usia kandungan kurang dari 20 minggu. Usia kehamilan yang cukup bulan/ aterm adalah 37 – 40 minggu.

Tanda-Tanda Terjadinya Abortus
  1. Terjadi kontraksi uterus/ rahim
  2. Terjadi perdarahan uterus/ rahim
  3. Dilatasi serviks (pelebaran mulut rahim)
  4. Ditemukan sebagian atau seluruh hasil konsepsi/ pembuahan
Etiologi Abortus
Penyebab keguguran sebagian tidak diketahui secara pasti tetapi terdapat beberapa faktor yang dianggap dapat menyebabkan terjadinya abortus, antara lain kelainan kromosom, terganggunya pemberian zat-zat makanan pada hasil konsepsi, radiasi, virus, obat-obatan, kelainan pada plasenta, penyakit ibu (pneumonia, tifus abdominalis, pielonefritis, malaria, dll), mioma submukosa, rendahnya kadar hormon progesteron, dll. Anemia berat, keracunan, laparatomi, peritonis umum dan penyakit menahun seperti brusellosis, mononukleosis, toksoplasmosis juga dapat menyebabkan abortus walaupun lebih jarang.

Klasifikasi Abortus
Abortus diklasifikasikan menjadi 3, yaitu:
  1. Abortus spontan adalah pengakhiran kehamilan sebelum 20 minggu yang berlangsung tanpa tindakan/ tanpa disengaja.
  2. Abortus buatan adalah pengakhiran kehamilan sebelum 20 minggu akibat tindakan yang disengaja.
  3. Abortus terapeutik adalah abortus buatan yang dilakukan pada kehamilan sebelum 20 minggu atas indikasi tindakan medis.
Abortus spontan maupun buatan bisa berupa abortus imminens, insipiens, kompletus, inkompletus, infeksius, missed abortion.


ABORTUS IMMINENS
Abortus sedang yang mengancam, terjadi sebelum janin dapat mencapai 500 gram atau kurang dari 20 minggu yang ditandai dengan:
Gejala
  1. Perdarahan pervaginam (< 20minggu)
  2. Mulas sedikit atau bahkan tidak sama sekali
  3. Ostium uteri masih menutup
  4. Tes kehamilan (+)
Pemeriksaan
  1. USG untuk melihat keadaan plasenta, ukuran biometri janin berdasarkan HPHT (hari pertama haid terakhir) dan DJJ (denyut jantung janin).
  2. Untuk menentukan prognosis dilakukan pemeriksaan urin.
Tata Laksana
  1. Tirah baring (bedrest) sampai perdarahan berhenti
  2. Spasmolitik
  3. Penambahan hormon progesteron
  4. Tidak melakukan hubungan seksual hingga 2 minggu

ABORTUS INSIPIENS
Abortus yang ditandai dengan serviks telah mendatar, ostium uteri telah membuka namun hasil konsepsi masih dalam kavum uteri dan dalam proses pengeluaran.
Gejala
  1. Mulas karena kontraksi sering dan kuat
  2. Perdarahan meningkat sesuai pembukaan serviks uterus dan usia kehamilan
  3. Tes kehamilan (+)
Pemeriksaan
  1. USG memperlihatkan bahwa pembesaran uterus masih sesuai dengan usia kehamilan
  2. Gerak janin dan DJJ jelas tapi mulai tidak normal
  3. Tampak penipisan serviks/ pembukaannya
  4. Perhatikan ada tidaknya plasenta
Tata Laksana
  1. Memperhatikan keadaan umum dan keadaan hemodinamik
  2. Pengeluaran hasil konsepsi
  3. Kuretase
  4. Antibiotik profilaksis , uterotonika

ABORTUS KOMPLETUS
Seluruh hasil konsepsi telah keluar dari kavum uteri pada kehamilan kurang dari 20 minggu, dengan berat janin kurang dari 500gr.
Hasil pemeriksaan :
  1. Semua hasil konsepsi telah keluar
  2. Ostium uteri telah menutup
  3. Uterus telah mengecil sehingga perdarahan sedikit
  1. Tes kehamilan (+) sampai 7-10 hari pasca abortus
Tata Laksana
Otimalisasi keadaan umum dan tanda vital ibu.

ABORTUS INKOMPLETUS
Hasil konsepsi sebagian telah keluar dan sebagian lagi masih tertinggal dalam kavum uteri.
Ciri-ciri :
  1. Kanalis servikalis masih terbuka dan teraba jaringan dalam kavum uteri
  2. Jaringan bisa menonjol pada ostium uteri eksternum
  3. Perdarahan jika masih ada sisa konsepsi
  4. Jika perdarahan berlanjut dapat menyebabkan anemia
Tata Laksana
  1. Optimalisasi keadaan umum dan tanda vital ibu (perdarahan banyak dapat menyebabkan syok)
  2. Pengeluaran seluruh jaringan konsepsi dengan eksplorasi digital
  3. Bila perlu dilakukan kuretase
  4. Uterotonika parenteral
  5. Antibiotik profilaksis

MISSED ABORTION
Abortus yang ditandai dengan embrio/ fetus yang telah meninggal dalam kandungan dan masih tertahan dalam kandungan.
Gejala
  1. Tidak merasakan keluhan
  2. Kehamilan > 14 minggu hingga 20 minggu namun rahimnya semakin mengecil
  3. Tanda-tanda sekunder pada payudara menghilang
  4. Kadang diawali dengan abortus imminens kemudian merasa sembuh padahal janin meninggal dalam kandungan
  5. Uterus mengecil
  6. Kantong gestasi mengecil
  7. Gambaran fetus tidak ada tanda kehidupan
Tata laksana
  1. Mengeluarkan jaringan konsepsi dengan stimulasi kontraksi uterus. Jika dilakukan tindakan kuretase, maka harus sangat hati-hati karena jaringan telah mengeras, dan dapat terjadi gangguan pembekuan darah akibat komplikasi kelainan koagulasi (hipofibrinogenemia).
  2. Jika abortus masih < 12 minggu dapat dilakukan dilatasi kemudian kuretase.
  3. Jika abortus > 12 mingggu, pada keadaan ini serviks masih kaku dilakukan induksi untuk mengeluarkan janin/ mematangkan kanalis servikalis dengan memberikan infus oksitosin IV dose 10 unit dalam 500cc dextrose 5% dengan tetesan 20 tetes/menit.

ABORTUS INFEKSIUS
Adanya abortus yang merupakan komplikasi dan disertai infeksi genetalia dan sering dikaitkan dengan tindakan abortus tidak aman sehingga menyebabkan perdarahan hebat.
Gejala
  1. Demam
  2. Tampak sakit, lelah
  3. Takikardi
  4. Perdarahan pervaginam berbau
  5. Uterus membesar dan lembut
  6. Nyeri tekan
  7. Tekanan darah menurun
  8. Menggigil
  9. Lelah
Tata Laksana
  1. Penisilin 4x 1,2. unit atau ampisilin 4 x 1 gr tambah gentamisin 2 x 80mg
  2. Kuretase setelah 6 jam pasca pemberian antibiotik
  3. Uterotonika

ABORTUS TERAUPETIK
Abortus terapeutik adalah abortus buatan yang dilakukan atas indikasi tindakan medis. Abortus terapeutik dilakukan pada usia kehamilan kurang dari 12 minggu, atas pertimbangan/ indikasi kesehatan wanita dimana bila kehamilan itu dilanjutkan akan membahayakan dirinya, misalnya pada wanita dengan penyakit jantung, hipertensi, penyakit ginjal, dll. Dapat juga dilakukan atas pertimbangan/ indikasi kelainan janin yang berat.

Sumber:

Artikel Terkait Pasca Kehamilan

No comments:

Post a Comment