Tuesday, May 7, 2013

Pencegahan dan Penanganan Diare Pada Anak

dokter muslimah
Diare atau mencret adalah suatu kondisi dimana seseorang buang air besar 3 kali atau lebih dalam satu hari dan tinja atau feses yang keluar berupa cairan encer atau sedikit berampas, kadang juga bisa disertai darah atau lendir tergantung pada penyebabnya. Menurut IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia), anak dinyatakan menderita diare bila buang air besarnya “lebih encer” dan “lebih sering” dari biasanya. Gejala ikutan lainnya adalah demam dan muntah. Kadangkala gejala muntah dan demam mendahului gejala mencretnya. 

Jenis Diare
Berdasarkan jangka waktu terjadinya, diare dibagi menjadi dua, yaitu diare akut dan kronis. Diare akut terjadi sampai dengan 7 hari, sedangkan diare kronis terjadi lebih dari 2 minggu. Di Indonesia, lebih banyak kasus diare akut dibandingkan yang kronis.

Pola Umum Buang Air Besar Pada Bayi dan Anak-anak
Sebelum membicarakan lebih jauh mengenai diare, sebaiknya Bunda mengenali pola umum buang air besar (BAB) pada bayi dan anak-anak. Pada umumnya, anak buang air besar sesering-seringnya 3 kali sehari dan sejarang-jarangnya sekali tiap 3 hari. Bentuk tinja tergantung pada kandungan air dalam tinja. Pada keadaan normal, tinja berbentuk seperti pisang. Dilihat dari kandungan airnya bentuk tinja bervariasi mulai dari “cair” (kadar airnya paling tinggi, biasanya terjadi pada diare akut), “lembek” (seperti bubur), “berbentuk” (tinja normal, seperti pisang), dan “keras” (kandungan air sedikit seperti pada keadaan sembelit). Pada bayi berusia 0-2 bulan, apalagi yang minum ASI, frekuensi buang air besarnya lebih sering lagi, yaitu bisa 8-10 kali sehari dengan tinja yang encer, berbuih dan berbau asam. Selama berat badan bayi meningkat normal, hal tersebut tidak tergolong diare, tetapi merupakan intoleransi laktosa sementara akibat belum sempurnanya perkembangan saluran cerna.
Warna Tinja Normal
Warna tinja yang normal adalah kuning kehijauan, tetapi dapat bervariasi tergantung makanan yang dikonsumsi anak. Yang perlu diperhatikan adalah bila tinja berwarna merah (mungkin darah) atau putih seperti dempul (pada penyakit hati).

Penyebab Diare Pada Anak
Sebagian besar diare disebabkan oleh infeksi rotavirus (sekitar 90%). Sebagian kecil diare dapat disebabkan oleh infeksi bakteri, parasit, jamur. Diare dapat dipicu pemakaiaan antibiotik (antibiotic induced diarhea). Sebagian kecil lagi disebabkan oleh keracunan makanan, alergi, dll.
  
Komplikasi Diare
Komplikasi diare adalah dehidrasi yaitu kekurangan cairan. Terdapat 3 keadaan akibat dehidrasi, yaitu:
  1. Tanpa dehidrasi (kehilangan cairan <5% Berat Badan). Tandanya anak tetap aktif, keinginan untuk minum seperti biasa karena rasa haus tidak meningkat, kelopak mata tidak cekung, buang air kecil (BAK) sering.
  2. Dehidrasi ringan sedang (kehilangan cairan 5-10% Berat Badan). Tandanya anak gelisah atau rewel, anak ingin minum terus karena rasa haus meningkat, kelopak mata cekung, BAK mulai berkurang.
  3. Dehidrasi berat (kehilangan cairan >10% Berat Badan). Tandanya anak lemas atau tidak sabar, tidak dapat minum, kelopak mata sangat cekung, pada uji cubit kulit kembali lebih dari 2 detik. Agar lebih mudah gunakan kulit perut.

Untuk menilai kondisi dehidrasi pada anak ada 4 parameter yang bisa digunakan yaitu aktivitas, rasa haus, kelopak mata, buang air kecil, dan uji turgor atau uji cubit. Lihat kelopak mata anak, apakah cekung atau tidak. Anak harus kencing dalam waktu 6-8 jam, jika lebih dari 8 jam tidak kencing maka dehidrasi ringan. Untuk anak yang lebih besar batas kencingnya 12 jam. Uji cubit paling gampang dilakukan pada kulit perut, kulit harus kembali dalam 2 detik.

Kapan anak dibawa ke dokter?
Orangtua tidak perlu panik jika anaknya diare. Lihat dahulu kondisi anak yaitu:
  • Apakah ada gejala dehidrasi.  Dehidrasi ini berbahaya. Jika ada tanda-tanda dehidrasi, sebaiknya segera dibawa ke dokter. Kalau tidak ada, anak dapat dirawat di rumah. Anak dengan dehidrasi ringan, tetapi anak tidak mau makan dan minum atau muntah setiap makan dan minum, juga harus dibawa ke dokter.
  • Apakah tinja berwarna merah (disertai darah). Kemungkinan diagnosisnya adalah disentri, yang bisa disebabkan oleh bakteri ataupun amuba. Pada diare ini, maka perlu dibawa ke dokter untuk mendapatkan tatalaksana yang tepat.
Tatalaksana Diare di Rumah
Diare adalah mekanisme tubuh mengeluarkan racun, bakteri, virus. Anak-anak tidak boleh dihentikan diarenya, karena menghambat pergerakan usus. Seolah-olah diarenya berhenti tapi di dalam masih berlangsung. Efek sampingnya usus lecet. Jadi, yang bisa Bunda lakukan antara lain:

  • Terusakan pemberian ASI jika anak masih menyusu pada Bunda, diperbanyak kuantitas dan frekuensi pemberiannya.
  • Rehidrasi. Berikan cairan lebih dari biasanya. Berikan cairan rehidrasi oral khusus anak (oralit anak) yang mengandung elektrolit untuk mencegah terjadinya dehidrasi. Anak yang diare jangan hanya diberi air saja, sebaiknya diberikan cairan yang mengandung elektrolit (natrium, kalium) dan kalori. Jangan menggunakan oralit dewasa, karena osmolaritasnya lebih tinggi. Pada tahun 2004 WHO bersama UNICEF mengumumkan kesepakatan mengubah penggunaan cairan rehidrasi oral yang lama menjadi cairan rehidrasi oral yang memiliki osmolaritas rendah (hipoosmolar). Oralit dewasa bisa digunakan asalkan dincerkan 2x, misal yang harusnya 1 sachet untuk 200 ml, maka dibuat 1 sachet untuk 400 ml. Atau Bunda bisa membuat larutannya sendiri. Menurut IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) :
Larutan Garam-Gula Larutan Garam-Tajin
Bahan terdiri dari 1 sendok teh gula pasir, seperempat sendok teh garam dapur dan 1 gelas (200 ml) air matang. Setelah diaduk rata pada sebuah gelas diperoleh larutan garam-gula yang siap digunakan. Bahan terdiri dari 6 (enam) sendok makan munjung (100 gram) tepung beras, 1 (satu) sendok teh (5 gram) garam dapur, 2 (dua) liter air. Setelah dimasak hingga mendidih akan diperoleh larutan garam-tajin yang siap digunakan.

  • Selain cairan rehidrasi oral hipoosmolar, WHO dan UNICEF juga merekomendasikan penggunaan zinc sebagai terapi tambahan untuk diare yang diberikan selama 10-14 hari walaupun diare sudah berhenti. Kedua cara ini dinilai sederhana dan murah. Manfaat zinc yaitu dapat meningkatkan imunitas, mengurangi lama, tingkat keparahan dan komplikasi diare serta mencegah berulangnya kejadian diare 2-3 bulan setelah pengobatan. Di indonesia pemberian zinc bersama cairan rehidrasi oral hipoosmolar juga direkomendasikan oleh IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) dan sudah mulai diperkenalkan sejak bulan februari 2007. Zinc tersedia dalam bentuk tablet dan sirup, bentuk tablet adalah tablet dispersible yang dalam waktu 30 detik atau kurang dari 60 detik telah larut dalam 5 ml air putih atau air susu. Cara pemberiannya tergantung pada umur anak yaitu untuk anak berusia kurang dari 6 bulan diberikan zinc sebanyak 10 mg sekali sehari selama 10-14 hari, sedangkan pada anak yang berusia lebih dari 6 bulan diberikan sebanyak 20 mg sekali sehari selama 10- 14 hari.
  • Anak jangan dipuasakan. Makanan harus tetap diberikan tapi hindari sayuran karena serat susah dicerna sehingga bisa meningkatkan frekuensi diarenya. Buah-buahan juga dihindari kecuali pisang dan apel karena mengandung kaolin, pektin, kalium yang berfungsi memadatkan tinja serta menyerap racun.
  • Obat yang boleh diberikan yaitu biakan bakteri hidup seperti lactobacillus. Contohnya Lacto-B, Lacto Bio, Protezin, dll.
  • Karena penyebab tersering adalah virus, maka tidak diperlukan antibiotik kecuali pada kasus yang terbukti ada infeksi bakteri misalnya penyakit kolera yang disebabkan Vibrio cholerae, penyakit disentri yang disebabkan bakteri atau amuba dengan ciri-ciri fesesnya bau sekali, ada lendir, darah, anaknya merasa sakit sekali saat mau BAB. Untuk membuktikan infeksi bakteri dilakukan dengan pemeriksaan feses rutin. Antibiotik yang digunakan harus berdasarkan resep dokter dan harus dihabiskan untuk mencegah terjadinya resistensi bakteri terhadap antibiotik tersebut!
 Pencegahan Diare
  • Mencuci tangan. Anak harus diajarkan untuk mencuci tangannya, sedangkan pada bayi sering dilap tangannya. Bunda pun juga harus sering mencuci tangan, terutama saat memberi makan pada anak dan setelah memegang sesuatu yang kotor seperti setelah membersihkan kotoran bayi atau anak.
  • Tutup makanan dengan tudung saji.
  • Masak air minum dan makanan hingga matang.
  • Jaga kebersihan makanan dan minuman, berikan ASI eksklusif minimal 6 bulan karena ASI mengandung immunoglobulin. Untuk bayi yang "terpaksa"  menggunakan susu formula, maka dotnya harus dicuci bersih dan disterilkan dengan baik.


 
 -dr. Desie Dwi Wisudanti-

Sumber:
http://www.idai.or.id/kesehatananak/artikel.asp?q=200741515310
http://www.who.int/bulletin/volumes/87/10/08-058990/en/
http://www.who.int/bulletin/volumes/88/10/10-075986/en/

Source of figure: http://mulandari.wordpress.com
 

Artikel Terkait Anak dan Balita

8 comments:

  1. artikel yg bagus, kebetulan baby sy sedang diare..

    ReplyDelete
  2. ada yg ingin sy tanyakan, klo babynya msh asi x apakah ibunya jg harus minum oralit dan zinc? terimakasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kl bayi masih ASI, mk gempur pake ASI. Penyebab tersering diare pada bayi adalah virus, sehingga mudah-mudahan dengan peningkatan daya tahan tubuh bayi, diare akan berhenti. Akan tetapi jika diare dengan frekuensi lebih sering, tdk mengapa bayi diberi zinc dan oralit. Jika bayi yg sakit, salah pengertian jika kemudian yg minum obatnya sang ibu, krn tidak dapat diukur atau diperkirakan berapa dosis obat yg sampai ke bayi, sehingga justru kadang dosis untuk bayi tidak tepat dan tidak efektif, tidak sesuai dosis terapi.

      Salam,
      dr. Desie Dwi Wisudanti

      Delete
  3. Dok kalau bayi usia 2bulan minum antibiotik kemungkinan menyebabkan diare? Bayi usia 2bulan minum sufor, normalnya bab brp kali dlm sehari? Makasih bantuannya dok..

    ReplyDelete
  4. Bermanfaat sekali infonya. Jika Admin berkenan, saya ingin berbagi info tentang Dus Makanan. Barangkali ada dari pembaca blog ini butuh ataupun sedang cari bisa klik di sini

    ReplyDelete
  5. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete
  6. dok,anak sy usia 17bulan mengalami diare sdh hampir 1minggu blm smbuh,obat tradisional brupa air kunyit dn daun jambu biji sdh diberikan,obat dr bidan jg sdh dok tp blm ada perubahan diarenya?mohon sarannya dok?

    ReplyDelete