Monday, April 22, 2013

Mengatasi Rasa Cemburu Anak Pada Adiknya

Dokter Muslimah
Rasa cemburu merupakan sifat alami dan normal pada setiap manusia, baik pada anak-anak, remaja maupun orang dewasa. Sifat cemburu tampak pada anak ketika umurnya beranjak 2 tahun. Pada usia 3 tahun, sifat ini akan bertambah, dengan menunjukkan sifat emosionalnya dan suka memiliki. Di usia ini, sering terdengar dari mulutnya yang mungil perkataan; "ini punya saya", dan semisalnya. Sebagian orang tua ada yang mengadu, "Anak saya suka cemburu pada saudaranya. Dia juga suka mengambil dan mengaku memiliki barang milik saudaranya". Rasa memiliki ini juga akan terlihat dari kelakuannya, seperti suka mengambil mainan atau barang orang lain, tidak mau memberi atau meminjamkan miliknya kepada orang lain. Tidak perlu cemas, karena perilaku ini akan berubah dengan sendirinya ketika dia sudah berumur 4 tahun.

Rasa cemburu yang ada pada anak balita akan tampak jelas ketika dia sudah mengenal aktifitas berinteraksi dengan anggota keluarganya. Si kecil akan berupaya dengan berbagai usahanya untuk tidak membiarkan orang tuanya yang sedang berbincang-bincang berduaan. Cara yang dilakukan si kecil biasanya adalah dengan memotong pembicaraan orang tuanya atau dengan melakukan sesuatu untuk mencari perhatian. Bukan hanya cemburu pada ayah yang sedang berbicara dengan ibunya, si anak juga akan merasakan hal yang sama ketika orang tuanya sedang berbincang-bincang dengan saudara-saudaranya.

Jika si kecil sudah tidak tahan lagi dengan rasa cemburunya dan hal-hal kecil yang dilakukannya tidak ampuh, maka dia akan melakukan perbuatan yang lebih ekstrim. Sikap ekstrim dan perilaku anak yang berlebihan ini akan sangat tampak ketika ibunya sedang sibuk mengurusi adiknya yang masih bayi. 

Dari hasil pengamatan, rasa cemburu anak juga tampak pada saudara-saudaranya yang lebih besar. Si kecil akan meminta mainan atau barang milik kakaknya, yang tujuannya hanya untuk mencabut kepemilikan barang tersebut dari kakaknya. Nah, apabila perilaku ini dibiarkan, dan segala permintaan dan tuntutannya dituruti, dikhawatirkan hal ini akan berkembang dan menjadi lebih parah.

Cemburu Pada Adik Yang Baru Lahir
Kecemburuan anak akan lebih tampak jelas ketika ibunya melahirkan adiknya. Ketika adiknya lahir, dia merasa kehadiran adiknya akan merusak dan merampas hak dan kasih sayang ibu darinya. Sejak itu, dia akan merasa tidak tenang. Kadang kala rasa cemburu ini tidak ditampakkan langsung oleh si anak, tapi bisa diketahui dari ekspresi dan kelakuannya.

Ketika rasa cemburu itu datang, adakalanya dia akan menggigit jari atau mengisap jempolnya. Cara lainnya, dia akan menjadi sering rewel, merengek, atau manja dengan gaya bahasa yang tidak seperti biasanya. Dia akan mendatangi ibunya agar disuapi, padahal dia baru saja makan sendiri. Pada malam hari dia akan mengompol, padahal semestinya sudah tidak mengompol lagi. Rasa cemburu itu juga bisa diekspresikan dengan cara suka membuat ulah, bertingkah tidak seperti biasanya, atau menjadi lebih keras. Dan, bisa jadi dia bersikap diam-diam menghanyutkan, tetapi suka merusak, mengobrak-abrik ataupun memukul sang adik.

Cara Mengatasi Rasa Cemburu Anak Pada Adiknya
Jika kita mendapati rasa cemburu pada anak kita terhadap adik ataupun kakaknya, maka harus segera diantisipasi. Sebab mengantisipasi akan lebih baik daripada mengobati, dan minimal bisa mengurangi rasa cemburunya dan hal-hal yang lebih buruk. Tips berikut semoga bisa dijadikan solusi untuk mengatasi rasa cemburu anak:
  • Mengenal lebih dalam psikologi anak dan berinteraksi dengan sebaik-baiknya.
  • Berikanlah kasih sayang, perhatian dan cinta anda kepadanya
  • Tanamkan rasa cinta dan sayang kepada adik dan saudara-saudaranya
  • Jadikanlah kehadirannya penting untuk adiknya
  • Sesekali jangan menuruti permintaannya.
  • Jangan melayani apa yang sedang dia lakukan. Biarkan saja selama hal itu masih wajar.
Kenalkan sedini mungkin si kecil dengan sang adik yang masih dalam kandungan dengan mengajak si kakak mengelus perut ibu, ‘bicara’ pada adik dan merasakan gerakan adik. Ceritakan kalau dia nanti mau punya adik kecil yang lucu. Memberikan contoh cara memperlakukan bayi. Misalnya, dengan memberikan si kakak mainan berbentuk boneka dan menggunakannya sebagai alat untuk menirukan cara memperlakukan dan menyayangi adiknya yang masih bayi. 

Jadikan kehadiran si kecil (kakak) penting untuk adiknya dengan melibatkannya untuk melakukan sesuatu guna membantu adiknya. Buat dia merasa, Bunda sangat membutuhkan bantuannya. Contohnya dengan memintanya untuk mengambilkan bedak, handuk atau popok adiknya. Sesekali katakan pada kakak, “Ini Lho, adik kangen deh, ingin lihat senyum kakak.”

Menjadikan si kakak sebagai “penasihat” Bunda. Misalnya, meminta dia memilihkan barang-barang bayi untuk adiknya saat Bunda mengajaknya berbelanja perlengkapan bayi. Puji dia, dan tunjukan rasa bangga dia sudah menjadi anak besar atau kakak yang baik.
Luangkan waktu berdua saja dengan kakak, agar kakak tidak merasa terlalu kehilangan. Anak masih perlu perhatian Bunda secara utuh tanpa berbagi dengan adik. Hal ini berlaku sama dengan ayah. Jangan lewatkan untuk meluangkan waktu bermain bersama kakak, saat adik bayi tidur.

Meneruskan rutinitas. Misalnya, kebiasaan membacakan dongeng sebelum tidur yang sudah menjadi rutinitas si kakak sebelum  Bunda hamil atau si adik lahir. Rutinitas membuat anak balita merasa aman dan nyaman karena dia sudah dapat memperkirakan sesuatu yang akan terjadi padanya. Mengubah rutinitas akan memicu sikap tantrum dan tangis si kakak. Anak bisa di ajak baca buku bersama, main bersama atau pergi sebentar ke supermarket berdua saja.

Mengajak kakak bermain bersama adik. Misalnya, membiarkan si kakak naik ke tempat tidur Bunda dan bermain bersama adik bayi. Kebiasaan ini akan membuat si kakak “terbiasa” bila mainan kesayangannya dipegang si adik cukup lama. Agar sikap cemburu si kakak tidak terpicu, selalu berikan waktu bermain berdua saja bermain dengan si kakak. Kebiasaan bermain bersama adik ini juga akan membuat mereka berdua berinteraksi dan berbagi hal-hal yang mereka sukai.

Usahakan kasih sayang dan perhatian orang tua jangan berkurang kepada si kecil yang baru punya adik, sehingga dia tidak merasa disisihkan dengan kehadiran sang adik. Bantu anak mengungkapkan perasaan. Tanamkan rasa  kasih sayang kepada adiknya, dan katakan kepada si kecil berulang-kali kalau ayah, bunda dan adik sayang kepada kakak. Sehingga akan membuatnya senang dan mengurangkan rasa cemburunya. Anak butuh waktu untuk bisa mengungkapkan rasa sayangnya pada adik. Biarkan anak mengungkapkan perasaannya terhadap adik. Menyakiti adik bukan cara untuk menyampaikan pesan. Ketika anak bersiap menyakiti adiknya, alihkan perhatiannya, ajak anak bicara. Tanyakan keinginannya, apa yang dia butuhkan.

Bicarakan dengan keluarga besar seperti kakek, nenek, paman atau tante agar mereka menyadari untuk tetap berbagi perhatian dengan sang kakak. Seringkali kehadiran anak baru menyedot perhatian keluarga besar sehingga seolah melupakan sang kakak yang sebelumnya mungkin menjadi satu-satunya pusat perhatian. Usahakan peralihan ini sehalus mungkin.

Hindari memposisikan kakak pada posisi mengalah terus. Anak yang lebih besar tidak harus selalu mengalah dari sang adik. Lebih baik terapkan asas keadilan. Kakak yang selalu dituntut mengalah akan merasa semakin tersisih dan memperbesar rasa cemburunya.

Sabar. Berikan kakak waktu untuk beradaptasi. Bila rasa cemburu si kecil tak terbendung dengan membikin banyak ulah, permintaan dan rewel, jangan sampai terpanjing emosi dan tetaplah sabar menghadapinya. Sesekali jangan turuti permintaannya sebagai pelajaran baginya, dan jangan melayani perbuatannya yang aneh-aneh selama masih dalam batas kewajaran. Bila sudah reda tangisannya dan marahnya cobalah memberi perhatian dan pengertian pada si kecil dengan cara halus. Bagi setiap anak, ini bisa berbeda-beda lamanya. Jadi, jangan berharap masalah ini akan hilang semudah membalik telapak tangan. Tentu saja dibutuhkan kesabaran dan pengertian dari orang tua untuk melewati masa-masa ini.




dr. Desie Dwi Wisudanti

Referensi:
  1. Seni Mendidik & Mengatasi Masalah Perilaku Anak Secara Islami, karangan Dr. Abdullah Muhammad Ash-Shubbi.
  2. Sumber lain

Artikel Terkait Anak dan Balita ,Parenting

1 comment:

  1. Subhanallah...ternyata sang penulis adalh sahabatku saat kuliah kedokteran dulu....desie dw..miss u ukh

    ReplyDelete