Thursday, April 18, 2013

Anak Gemuk, Lucukah atau Justru Mengkhawatirkan?

Dokter Muslimah
"Eih... lucunya, gemes dech", demikian komentar awal banyak orang saat melihat anak kecil yang gemuk. Sayangnya, obesitas ternyata dapat membahayakan. 

Obesitas atau kegemukan diartikan sebagai penimbunan jaringan lemak tubuh secara berlebihan. Angka kejadian obesitas pada masa kanak-kanak meningkat secara cepat di seluruh dunia. Meskipun masalah genetik dan hormonal juga dapat menjadi penyebab terjadinya obesitas pada anak-anak, kebanyakan kasus kelebihan berat badan disebabkan karena anak-anak makan terlalu banyak dan terlalu sedikit bergerak. Obesitas dapat dikenali dengan mudah karena mempunyai ciri-ciri yang khas. Pada anak laki-laki, bagian kemaluannya (penis) tampak kecil karena tersembunyi dalam jaringan lemak. Hal ini seringkali menyebabkan orang tua menjadi sangat khawatir dan segera membawanya ke dokter.

Faktor Resiko
Banyak faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya kelebihan berat badan pada anak:
  • Pola makan
  • Jarang bergerak
  • Masalah genetik
  • Faktor psikologis. Ada sebagian anak-anak yang makan terlalu banyak sebagai pelampiasan bila ada masalah, terutama masalah emosi, seperti stres atau kebosanan.
  • Faktor keluarga/ sosial. Orang tua bertanggung jawab untuk menyediakan makanan sehat di dapur dan meninggalkan makanan yang tidak sehat di dalam lemari. Anda tidak bisa menyalahkan anak-anak bila mereka tertarik pada gula-gula, makanan yang asin dan berlemak; lagipula rasa makanan tersebut biasanya memang enak. Tapi anda dapat mengendalikan akses yang dimiliki anak-anak pada makanan seperti ini, terutama di rumah.

Komplikasi
Anak yang kelebihan berat badan dapat menderita masalah kesehatan yang cukup serius, seperti kencing manis dan penyakit jantung, dan sering kali juga membawa kondisi ini sampai ke masa dewasanya. Dampak obesitas dapat terjadi dalam jangka pendek maupun jangka panjang, misalnya:
  • Gangguan psikososial seperti rasa rendah diri, depresif dan menarik diri dari lingkungan.
  • Gangguan pernapasan seperti infeksi saluran napas, tidur ngorok, sehingga tidur tidak nyenyak, sering mengantuk siang hari dan akibatnya dapat mengganggu aktivitas belajar di sekolah dan menurunnya pencapaian nilai akademis.
  • Pada saluran pernafasan bayi, obesitas meningkatkan risiko infeksi saluran pernafasan bagian bawah karena terbatasnya kapasitas paru-paru.
  • Kulit sering lecet karena sering bergesekan khususnya di daerah lipatan, anak merasa gerah/ panas, sering disertai biang keringat, maupun jamur pada lipatan-lipatan kulit.
  • Menghambat gerakan anak.
  • Gangguan kedudukan dan pertumbuhan tulang, berupa kaki pengkor atau tergelincirnya bagian sambungan tulang paha (terutama pada anak laki-laki) serta pertumbuhan tulang yang harus menahan beban yang lebih berat dari yang semestinya.
  • Kegemukan terutama di daerah perut, kadar lemak dan kolesterol yang tinggi, tekanan darah tinggi, resistensi terhadap insulin dapat meningkatkan kerentanan terhadap terbentuknya sumbatan pembuluh darah, penyakit jantung, kencing manis (diabetes melitus), stroke dan kerentanan terhadap proses peradangan (American Heart Association).
  • Faktor risiko yang ada pada masa kanak-kanak (termasuk tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, dan diabetes) dapat menyebabkan terjadinya masalah medis saat mereka beranjak dewasa. Mencegah atau menangani obesitas pada anak-anak dapat mengurangi risiko terjadinya masalah kesehatan seperti ini saat mereka dewasa.
  • Pubertas atau menarche (awal menstruasi) dini: anak yang kelebihan berat badan dapat tumbuh lebih tinggi dan secara seksual lebih matang dari anak-anak sebayanya. Gadis-gadis yang mengalami kelebihan berat badan seringkali mengalami siklus menstruasi yang tidak teratur dan menghadapi masalah fertilitas (kesuburan) pada usia dewasanya.

Tata Laksana Obesitas Pada Anak-Anak
Prinsip tata laksana obesitas pada anak adalah menyeimbangkan antara jumlah kalori yang masuk dengan yang keluar melalui:  

1. Pengaturan Diet 
  • Mulai dengan ASI Eksklusif. Pencegahan kegemukan bisa dimulai dari pemberian ASI secara eksklusif. Sebab pemberian ASI tidak akan membuat asupan susu si kecil menjadi berlebihan. Sementara itu, jika balita diberi susu formula, orang tua cenderung akan memaksa menghabiskan semua susu yang sudah ada dalam botol.
  • Belajarlah mengenai kebutuhan nutrisi pada anak-anak. Berkonsultasilah pada ahli gizi sehingga bisa didapat tatanan diet yang tepat.
  • Atur kalori yang masuk dan sesuaikan dengan kebutuhan anak.
  • Gali motivasi anak dan dapatkan kesepakatan bersama.
  • Mengkonsumsi makanan sehat yang seimbang, dengan membiasakan konsumsi makanan berserat seperti sayuran dan buah-buahan.
  • Ubah kebiasaan makan dengan membatasi kebiasaan makan di luar rumah, terutama bila yang dikonsumsi makanan jenis cepat saji. Hindari asupan kalori tambahan dalam jumlah besar seperti es krim, coklat atau minuman ringan setelah makan.
 2. Pengaturan kegiatan fisik
  • Mulai dengan membatasi nonton TV dan bermain komputer.
  • Dorong anak untuk melakukan kegiatan fisik yang membakar kalori dan menggunakan berbagai kelompok otot yang berbeda selama 20-30 menit per hari, misalnya main lari-larian, berenang, main sepeda, main sepatu roda. 
  • Jangan lupa untuk minum air putih untuk menggantikan cairan yang hilang melalui keringat.
  • Ajak anak untuk terlibat dalam kegiatan olahraga di sekolah atau di sekitar rumah .
  • Jangan memberi makan di luar jam makan yang seharusnya
  • Jangan memburu-buru waktu makan. Orang cenderung makan lebih banyak jika terburu-buru.
  • Jangan gunakan makanan sebagai hadiah atau reward.
  • Jangan gunakan makanan penutup sebagai hadiah jika menghabiskan makanan.
  • Jangan makan di restoran cepat saji lebih dari 1 kali seminggu.
  • Pastikan bahwa makanan yang dibeli di luar rumah seperti di kantin sekolah memiliki gizi seimbang.
  • Hindari minuman berkarbonasi dan minuman yang manis.
Bila anda, sebagai orangtua, memiliki pola makan yang baik dan berolahraga secara rutin dan dapat memasukkan kebiasaan yang sehat dalam kegiatan keluarga sehari-hari, berarti anda telah membentuk gaya hidup yang sehat bagi anak anda yang dapat berlangsung terus hingga ia beranjak dewasa. Bicarakan pada anak mengenai pentingnya pola makan yang baik, dan pentingnya kegiatan fisik, tapi buatlah kedua hal tersebut sebagai kegiatan keluarga sehingga menjadi kebiasaan yang baik bagi anda dan anak-anak anda. Terakhir, biarkan anak-anak anda mengetahui bahwa anda mencintai mereka, tidak peduli berapapun berat badan mereka, dan bahwa anda ingin membantu mereka menjadi sehat dan bahagia.





- dr. Desie Dwi Wisudanti -

Reference:
Majalah Al-Mawaddah (with editing), Edisi Mei 2009

Artikel Terkait Anak dan Balita

No comments:

Post a Comment