Monday, February 4, 2013

Obat Pada Sistem Respirasi

Dokter Muslimah
klikdokter.com
Tujuan umum dari pengelolaan penyakit pada sistem respirasi adalah mengurangi obstruksi dengan memperbaiki diameter saluran napas, menghilangkan sekresi yang tertahan, memberantas infeksi dan mengoreksi ventilasi yang abnormal. Mengingat pentingnya fungsi paru dan mengingat banyaknya macam obat yang dapat digunakan dalam klinik yang dapat mempengaruhi fungsi paru, maka di sini akan dibahas terutama mengenai obat asma bronkial, antitusif, ekspektoran dan mukolitik. 
Penatalaksanaan asma dapat ditinjau dari berbagai pendekatan, berikut akan dijelaskan masing - masing metode tersebut. 

1Mencegah alergen IgE
    • Mencegah/ menghindari kontak dengan alergen, yang hal ini tampaknya sederhana namun susah dilakukan, karena faktor pemicu asma sangat bervariasi dan berbeda -beda pada tiap pasien.
    • Hiposensitasi, yakni dilakukan dengan terapi menyuntikkan alergen sedikit demi sedikit dengan tujuan agar tubuh membentuk IgG, sebagai blocking antibody yang mencegah ikatan antara IgE dengan alergen yang bisa masuk ke tubuh kapan saja. Namun efek terapi ini masih sangat diragukan.
    2.  Mencegah pelepasan mediator
    Premedikasi dengan natrium kromolin dapat mencegah spasme bronkus yang dicetuskan oleh alergen, yakni bekerja dengan mencegah pengelepasan mediator mastosit. Obat ini tidak akan mengatasi spasme bronkus yang telah terjadi, oleh karena itu hanya akan dipakai sebagai obat terapi pemeliharaan. Natrium kromalin akan sangat efektif pada anak dengan asma alergi. Disamping itu obat agonis β-2 maupun teofilin selain bersifat bronkodilator juga dapat mencegah pelepasan mediator.

    3.  Melebarkan saluran nafas dengan bronkodilator 
    • Simpatomimetik: Agonis β -2, (salbutamol, terbutalin, fenoterol, prokaterol) merupakan obat-obat yang seringkali dipilih mengatasi serangan asma akut. Dapat diberikan secara inhalasi melalui MDI (Metered Dosed Inhaler) atau nebulizer. Epinefrin diberikan subkutan sebagai pengganti agonis β -2 dalam serangan asma berat, dianjurkan untuk anak dan dewasa muda.
    • Aminofilin dipakai waktu serangan asma akut, diberikan dosis awal dan dilanjutkan dengan dosis pemeliharaan.
    • Kortikosteroid sistemik, merupakan bronkodilator, akan tetapi melebarkan saluran napas secara tidak langsung, dipakai saat serangan asma akut dan controller pada pemeliharaan asma berat.
    • Antikolinergik, terutama dipakai sebagai suplemen bronkodilator agonis β -2 pada serangan.
      4.  Mengurangi respon dengan jalan meredam inflamasi saluran nafas 
      Secara histopatologis, ada infiltrasi sel-sel radang serta mediator inflamasi. Implikasi terapinya dengan meredam inflamasi dengan natrium kromolin, yang lebih poten adalah dengan kortikosteroid oral, parenteral, atau inhalasi seperti yang diberikan pada asma akut.

      Sesuai dengan macam efek dan kegunaannya dalam klinik, obat anti-asma, dibagi menjadi dua golongan utama yaitu:
      1. Bronkodilator (reliever) termasuk agonis, xantin dan antikolinergik;
      2. Anti inflamasi (controller) termasuk kortikosteroid dan stabilizer sel mastosit.

      1.   Bronkodilator (reliever) 
      Obat jenis ini merupakan penghilang gejala saat terjaadi serangan, jadi obat yang masuk klasifikasi reliever haruslah yang dapat merelaksasi bronkus (bronkodilator) dan berbagai gejala akut yang menyertainya. Yang termasuk golongan ini yakni agonis β-2 hirup kerja pendek, kortikosteroid sistemik, antikolinergik sistemik, antikolinergik hirup, teofilin kerja pendek, dan agonis β-2 oral kerja pendek. Yang termasuk agonis β-2 hirup, yang biasa terkandung dalam MDI (meter-dossage inhaler), inhaler dan nebulizer adalah feneterol, salbutamol, terbutalin, prokaterol, merupakan obat terpilih untuk gejala asma akut. Bisa diberikan sebelum kegiatan jasmani yang dikhawatirkan akan memicu terjadinya asma. Sedangkan dari golongan metil xantin yang paling sering digunakan adalah teofilin dan aminofilin. Teofilin memilik sifat relaksasi otot polos dan diuretik (lemah), merupakan bronkodilator potensi sedang. Teofilin memiliki efek bronkodilatasi dengan memblok reseptor adenosin. Dari golongan anti kolinergik, dikenal adanya ipatropium bromida yang dikenalkan sebagai MDI, efek anti kolinergiknya digunakan dalam pengobatan asma kronis. Ipatropium terbukti lebih kuat daripada agonis β-2 pada pasien dengan penyakit paru obstruktif kronik (PPOK).

      Siklik AMP dan Asma Bronkial
      Siklik AMP (cAMP) mencegah kontraksi otot polos bronkial, meningkatkan relaksasi otot polos bronkial dan menghambat pembebasan mediator reaksi alergi. Metabolisme cAMP dapat digambarkan sebagai berikut:
                               

      Zat yang merangsang aktivitas adenilat siklase adalah agonis β-2 dan yang menghambat aktivitas fosfodiesterase adalah aminofilin.
      Peran kortikosteroid sistemik pada asma akut adalah untuk mencegah perburukan gejala. Antikolinergik hirup atau ipatropium bromidaa, selain dipakai sebagai tambahan agonis β-2 hirup pada asma akut, juga dipakai sebagai obat alternatif ada pasien intolerir agonis β-2.

      Dosis dan Cara Penggunaan
      Nama Obat Bentuk Sediaan Dosis
      DeksametasonTablet0,75-9 mg dalam 2-4 dosis terbagi (Dewasa)
      0,024 - 0,34 mg/kg berat badan dalam 4 dosis terbagi (Anak-anak)
      Metil Prednisolon Tablet2-60 mg dalam 2-4 dosis terbagi (Dewasa)
      0,117 - 1,60 mg/kg berat badan setiap hari dalam 4 dosis terbagi (Anak-anak)
      PrednisonTablet5-60 mg dalam 2-4 dosis terbagi (Dewasa)
      0,14 - 2 mg/kg berat badan setiap hari dalam 4 dosis terbagi (Anak-anak)
      Triamsinolon Aerosol Oral2 inhalasi (kira-kira 200 mcg),3-4 kali sehari. Atau 4 inhalasi (400 mcg), 2 kali sehari. Dosis harian maksimu adalah 16 inhalasi/ 1600 mcg (Dewasa)
      Dosis umum adalah 1-2 inhalasi (100-200 mcg), 3-4 kali sehari. Atau 2-4 inhalasi (200-400 mcg) 2 kali sehari. Dosis harian maksimum adalah 12 inhalasi/ 1200 mcg (Anak-anak 6-12 tahun)
      Beklometason Aerosol OralPasien yang sebelumnya menjalani terapi asma dengan bronkodilator saja: 40-80 mcg sehari. Pasien yang sebelumnya menjalani terapi asma dengan kortikosteroid inhalasi: 40-160 mcg sehari (Dewasa & Anak-anak >= 12 tahun)
      Pasien yang sebelumnya menjalani terapi asma dengan bronkodilator saja: 40 mcg sehari. Pasien yang sebelumnya menjalani terapi asma dengan kortikosteroid inhalasi: 40 mcg sehari (Anak-anak 5-11 tahun)

      Dosis dan Cara Penggunaan
      Bentuk Sediaan Dosis
      Aerosol Oral2 inhalasi (36 mcg) 4 kali sehari. Pasien boleh menggunakan dosis tambahan tetapi tidak boleh melebihi 12 inhalasi dalam sehari
      LarutanDosis yang umum 500 mcg (1 unit dosis dalam vial), digunakan dalam 3-4 kali sehari dengan menggunakan nebulizer oral, dengan interval pemberian 6-8 jam. Larutan dapat dicampurkan dalam nebulizer jika digunakan dalam waktu 1 jam


      2.   Controller 
      Merupakan obat yang dapat dipakai setiap hari, dengan tujuan agar gejala asma persisten terkendali. Yang masuk dalam golongan controller adalah anti-inflamasi dan bronkodilator long-action, khususnya kortikosteroid hirup sebagai obat paling efektif. Termasuk golongan obat pencegahan adalah kortikosteroid hirup, kortikosteroid sistemik, natrium nedokromil, teofilin lepas lambat (TLL), dan obat anti-alergi.

      Antitusif
      Merupakan cough suppressant, yakni oas zbat yang berfungsi secara khusus menekan batuk langsung pada pusat batuk. Antitusif akan bekerja dengan menurunkan aktifitas pusat batuk di sumbernya dan menekan respirasi. Contohnya adalah dekstromethorpan, dan folkodin sebagai opioid sangat lemah. Sedangkan kodein, diamorfin dan metadon adalah golongan opioid yang nantinya akan memiliki efek samping depresi cerebral dan pernafasan. Antitusif ini dibedakan yang sentral dan perifer.

      Perifer, hanya akan bekerja di permukaan saja. Contohnya lidokain, obat ini tidak menyerang langsung ke pusat otak, sehingga sering dipakai saat pasien akan melakuan bronkoskopi, yakni untuk menekan batuk dan sedikit memberi efek anastesi.

      Sentral sendiri akan dibagi ke dalam dua kelompok, yakni opioid dan non-opioid. Opioid, contohnya kodein. Bertindak secara sentral dengan meningkatkan nilai ambang batuk. Kodein dilarang beredar dibeberapa negara karena dianggap sebagai narkotik, dan untuk dokter yang akan meresepkan kodein harus memberi tanda tangan pada resep. Untuk ukuran opioid, kodein adalah yang paling sering dipakai. Dosis bagi dewasa adalah 10-20 mg dan diberikan antara 4-6 jam, dengan catatan konsumsi tidak lebih dari 120 mg/24 jam. Efek samping yang akan timbul yang paling sering ditemui adalah mual, muntah, konstipasi, palpitasi, proritus, efek sedatif dan agutasi.

      Non-opioid, contoh obat yang paling banyak dipasaran dan dipakai adalah dekstromethorpan, yang tidak berefek analgetik ataupun bersifat aditif. Zat ini pada prinsipnya akan meningkatkan nilai ambang rangsang reflek batuk dengan kekuatan kerja yang kurang lebih sama dengan kodein, namun akan sangat jarang ditemukan keluhan berupa kantuk dan gangguan pencernaan. Dalam dosis terapi biasanya tidak akan menghambat kerja silia bronkus, dengan efek antiatusifnya akan bertahan 5-6 jam. Toksisitas obat ini rendah sekali, namun penggunaan dalam dosis tinggi akan mungkin menimbulkan depresi pernafasan. Sediaan yang ada berupa sirup dengan kadar 110-115 mg/5ml. Dosis untuk pengguna dewasa adalah 10-30 mg dan bisa diberikan 3-4 kali perhari. Bisa dikombinasikan dengan  dekongestan dan ekspektoran.

      Mukolitik
      Bekerja dengan mengencerkan sekret pada saluran nafas dengan jalan memecah benang-benang mukoprotein dan mukopolisakarida pada sputum. Efek perubahan akan timbul melalui reaksi kimia yang akan merubah viskositas mukopolisakarida sputum. Agen mukolitik ada 3 macam, yakni : bromheksin, ambroksol dan asetilsistein.
      • Bromheksin
        Merupakan derifat sintetik vasicine dalam bentuk sinetis. Biasa diberikan untuk penderita bronkhitis atau kelainan saluran nafas yang lain. Di UGD diberikan pada pasien dengan gangguan bronkus agar dahak keluar. Dosis dewasa yang disarankan adalah 3 kali 4-8 mg/hari. Obat ini rasanya sangat pahit.Efek samping jika obat diberikan per-oral adalah mual dan peningkatan transminase serum. Jadi obat ini harus dipertimbangkan dengan hati-hati pada pasien tukak lambung.
      • Ambroxol
        Merupakan metabolit bromheksin yang mekanisme kerjanya sama dengan bromheksin. Namun masih diperlukan banyak penelitian lanjutan untuk mengetahui efektifitas obat ini.
      • Asetilsistein
        Akan banyak diberikan pada pasien dengan bronkopulmonari kronis, pneumonia, fibrosiskistik dan pada penyakit dengan mukus yang amat kental sebagai faktor penyakit.
      Sediaannya akan diberikan melalui semprotan nebulizer ataupun tetes hidung. Kerja utamanya adalah dengan memecah ikatan disulfida, yakni menurunkan viskositas sputum. Namun tetap akan ada efek samping yang ditimbulkan, yakni spasme bronkus pada pasien asma, mual, muntah, stomatitis, common-cold, dan sekret berlebih yang encer, sehingga perlu dilakukan penyedotan.

      Ekspektoran
      Ekspektoran adalah golongan obat yang akan merangsang pengeluaran sekret ataupun dahak dari saluran pernafasan. Mekanisme kerjanya diduga berhubungan dengan stimulasi mukosa lambung yang selanjutnya akan timbul reflek yang merangsang sekresi kelenjar saluran nafas melalui nervus vagus, sehingga nantinya akan menurunkan viskositas sputum hingga dahak akan mudah keluar.
      • Amunium klorida
        Obat ini sangat jarang ditemukan sebagai obat tunggal, lebih sering dicampurkan dengan ekspektoran lainnya ataupun dicampurkan dengan antitusif. Apabila dipakai dalam dosis besar akan dapat menimbulkan asidosis metabolik. Jadi jelas harus hati - hati dipakai pada pasien insufisiensi hati, ginjal maupun paru.Dosis dewasa 300mg dalam tiap 5ml tiap 2-4jam.
      • Gliseril guaikolat
        Menurut penelitian belum ada bukti manfaat obat dengan dosis tertentu akan baik bagi pasien, hanya persepsi saja. Ada efek samping jika obat dikonsumsi dalam dosis besar, yakni efek sedatif, mual dan muntah. Sediaan yang beredar di pasaran adalah dalam bentuk sirup 100 mg/5 ml, dengan dosis dewasa yang disarankan adalah 2-4 kali 200-400 mg per hari


       
      - dr. Desie Dwi Wisudanti -

      Referensi: 
      1. Buku ajar Ilmu Penyakit Dalam jilid III, bab pulmonologi, edisi V : 2009, Interna Publishing
      2. Farmakologi dan Terapi Edisi 5, Departemen Farmakologi dan Terapeutik FKUI, cetakan 2011 dengan tambahan
      3. Katzung B. G. 2006. Basic and Clinical Pharmacology, 10th Edition. San Fransisco

      Artikel Terkait Farmakologi

      No comments:

      Post a Comment