Thursday, January 24, 2013

Blighted Ovum, Tanda dan Gejalanya

pregnancy.org
Blighted ovum  (BO), dikenal sebagai kehamilan tanpa embrio (anembryonic pregnancy), adalah keadaan dimana seorang wanita merasa hamil tetapi tidak ada bayi di dalam kandungan. Pada saat terjadi pembuahan, sel-sel tetap membentuk kantung ketuban, plasenta, namun telur yang telah dibuahi (konsepsi) tidak berkembang menjadi sebuah embrio.

Penyebab
Blighted ovum  terjadi pada saat awal-awal kehamilan. Penyebab dari blighted ovum  sampai saat ini belum diketahui secara pasti, namun diduga karena adanya kelainan kromosom, kelainan genetik, atau sel telur dengan kondisi kurang baik dibuahi oleh sperma normal atau sebaliknya. Sayangnya, blighted ovum tidak bisa dicegah atau dihindari.

Gejala dan tanda
Pada kondisi blighted ovum  kantung kehamilan akan terus berkembang, layaknya kehamilan biasa, namun sel telur yang telah dibuahi gagal untuk berkembang secara sempurna. Maka pada ibu hamil yang mengalami blighted ovum, akan merasakan bahwa kehamilan yang dijalaninya biasa-biasa saja, seperti tidak terjadi sesuatu, karena memang kantung kehamilan berkembang seperti biasa.
 
Pada saat awal kehamilan, produksi hormon HCG tetap meningkat, sehingga hasil test pack positif. Ibu hamil juga mengalami gejala seperti kehamilan normal lainnya, mual muntah, pusing-pusing, sembelit dan tanda-tanda awal kehamilan lainnya. Namun ketika menginjak usia kehamilan 6-8 minggu, ketika ibu hamil dengan blighted ovum memeriksakan kehamilan ke dokter dan melakukan pemeriksaan USG, maka akan terdeteksi bahwa terdapat kondisi kantung kehamilan berisi embrio yang tidak berkembang.

Jadi, gejala blighted ovum  dapat terdeteksi melalui pemeriksaan USG atau hingga adanya perdarahan layaknya mengalami gejala keguguran mengancam (abortus iminens) karena tubuh berusaha mengeluarkan konsepsi yang tidak normal. Karena gejalanya yang tidak spesifik, maka biasanya blighted ovum  baru ditemukan setelah akan tejadi keguguran spontan dimana muncul keluhan perdarahan.


Tatalaksana
Jika telah didiagnosis blighted ovum, maka tindakan selanjutnya adalah mengeluarkan hasil konsepsi dari rahim. Caranya bisa dilakukan dengan kuretase atau dengan menggunakan obat. Namun kuretase dianggap memiliki kelebihan karena dapat mencegah terjadinya infeksi dan juga dapat dilakukan analisis terhadap hasil kuretase untuk memastikan penyebab blighted ovum,  lalu mengatasi penyebabnya.

Blighted ovum tidak berpegaruh terhadap rahim ibu atau terhadap masalah kesuburan. Seseorang yang pernah mengalami blighted ovum dapat kembali hamil normal. Namun jika ibu mengalami blighted ovum berulang, sebaiknya dilakukan pemeriksaan dan pengobatan yang intensif, karena dikhawatirkan adanya kelainan kromosom yang menetap pada diri ibu atau suami. Dokter mungkin menyarankan untuk dilakukan tes genetika atau juga dilakukannnya terapi selama 1-3 bulan sebelum mencoba hamil kembali, tergantung dari kondisi hasil pemeriksaan dokter. 





- dr. Desie Dwi Wisudanti -
 

Artikel Terkait kehamilan

No comments:

Post a Comment